Love Of The Leaders (Sequel)

 

Sumber: http://koreannc.wordpress.com/2012/05/05/love-of-the-leaders-sequel/

1. Author : @diivaNE

2. Judul :  Love Of The Leaders (Sequel)

3. Kategori: NC 17, Yadong, Oneshoot

4. Cast:

– Park Jungsoo

– Kim Taeyeon

– Other cast

ini aku buat sequel dari ff dengan judul yang sama atas permintaan beberapa readers, ff ini lumayan panjang.. gak ada maksud apa-apa, author buat ff ini karena author seorang adorkable.. ff ini murni hasil pikiran author dan pastinya gak ada hubungannya sama kenyataan.. mohon dibaca dengan pikiran terbuka, dan kalau emang gak ngerti ama jalan ceritanya, author saranin buat baca versi aslinya biar nyambung.. saran dan kritiknya author tunggu.. biar manis, pedes, *asal bukan bashing- kekeke^^* untuk kemajuan ff author selanjutnya.. terakhir, author mau ngucapin terima kasih buat admin KNC yang udah ngepost dan para NCsplode yang udah mau baca ff ini dengan meninggalkan jejaknya..

 

happy reading^^

————————————————————————————–

Leeteuk POV’S

@my room, 02.47am


Aku berulang kali meyakinkan bahwa aku tidak akan lama bertahan dalam posisi ini.

Aku berulang kali memerintah pada diriku sendiri untuk segera menutup mata dan mencoba tidur kembali karena ada schedule padat yang menantiku hari esok.

Tapi entah mengapa, waktu yang bagiku selama sebulan terakhir ini berjalan begitu lambat, tiba-tiba menjadi seperti sedang berlari cepat justru pada saat aku sedang menundukkan kepala dan menatap wajah Kim Taeyeon yang tertidur dalam pelukanku seperti sekarang tanpa berbuat apa-apa.

Betapa aku menyukai moment ini! berapapun lama waktu yang sudah kuhabiskan, bisa kuyakini bahwa penat sekalipun tidak mengusikku.

Jangan tanya mengapa, tapi yang pasti ada sesuatu pada gadis ini-aku tak tahu itu apa-yang membuatku kuat walaupun dengan hanya memperhatikannya.

Wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya. Kenyamanan yang ditimbulkan dari semua itu, menyadarkan diriku bahwa aku tidak mungkin melepaskannya lagi.

Aku bisa saja menghabiskan sisa malam ini untuk memandangnya.

Tapi kurasa tidak, mungkin aku harus berhenti sekarang..

Yah, aku memang harus berhenti..

Fakta pertama, mungkin karena jantungku yang kurasa sudah tidak kuat lagi menahan debaran yang terjadi sedari tadi.

Fakta kedua, kenyataan mengenai para dongsaengku yang-satupun-belum pulang dari schedule mereka hari ini.

Dan untuk fakta kedua ini, dengan enggan akupun memutuskan untuk bangun. Perlahan dan hati-hati, kulepaskan persetubuhanku dengan Taeyeon lalu mengecup kening gadis itu lembut dan membelai rambutnya.

Aku tersenyum sejenak sebelum akhirnya benar-benar bangkit dan mulai memungut bajuku yang berserakan di kamar lalu memakainya.

“oppa sudah bangun rupanya?” sebuah suara terdengar tepat setelah aku selesai menggenakan t-shirt putihku. Kuputar kepala dan melihat kearah sumbernya.

Taeyeon sedang duduk di ujung tempat tidur. Bagian tubuh polosnya hanya ditutupi seadanya oleh sebuah selimut putih milikku.

Gadis itu tersenyum manis. Lagi-lagi hati ini mendesir senang.

“kau terbangun karenaku?” tanyaku retoris.

Ia tetap tersenyum. Lagi-lagi..


“miahae oppa, sepertinya aku harus pulang sekarang” Taeyeon bangkit dan berjalan kearahku menyeret serta selimut putih itu kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar untuk mencari baju miliknya.

Aku tetap bergeming melihatnya mulai berjalan kesana kemari mencari segala persiapannya untuk segera pulang.

Segera pulang..


“jangan pergi” bisikku pelan-lebih pada diriku sendiri ketika ia menunduk untuk mengambil kemejanya yang terletak tidak jauh dari posisiku berdiri.

Aku memang tidak ingin dia pergi dulu dari sini, setidaknya untuk sekarang.

“mwo oppa?” ia menegakkan badan dan menatapku heran.

“aku tidak ingin kau pergi” ulangku lebih tegas.

Dan akhirnya naluriku sebagai pria menyuruh untuk sesegera mungkin meraih pinggang Taeyeon lalu menciumnya lagi penuh-penuh mulut.

“hmmppff” Taeyeon tidak membalas ciumanku.

Dengan kasar, kurampas kasar selimut yang ia pakai dan membuangnya ke sembarang tempat hingga tubuh telanjang Taeyeon menempel erat pada tubuhku yang telah berbaju.

Taeyeon memberontak, dan itu malah membuatku semakin liar karena sensasi gesekan payudaranya di dada bidangku.

“ooh.. oppahh, member sujuhh” Taeyeon sempat mengingatkan disela-sela aktifitasku yang kini sedang melumat nipple dan meramas bokongnya mengenai fakta kecil itu.

Tapi memang benar-benar keras kepala, aku malah mengabaikannya dan mulai mengigit pelan dadanya yang menyembul di hadapanku hingga terlukis kissmark disana.

“aakh! Oppah!” rintih Taeyeon seraya menjambak rambutku. Puas bermain dengan bagian dadanya, ciumanku kembali kuarahkan kebibirnya, berharap kali ini Taeyeon mau membalasnya.

Dan Taeyeon membalasnya, dibukanya mulut dan dijulurkannya lidahnya itu untuk kulumat habis. Ciuman kami kali ini benar panas-panas, decak lidah terdengar seiring usaha kami untuk saling bertukar saliva.

Tidak peduli lagi, dengan keadaan tergesa-gesa, kuangkat kaki kiri Taeyeon dan memaksanya untuk melingkarkan kakinya ke pinggangku erat-erat untuk bisa kuremas bokongnya secara lebih kuat.

“oppaahh.. jeballh” desah Taeyeon saat kumasukkan tiga jariku pada lubang vaginanya dengan tangan yang bebas.

“aakkhhk..” desah kami berdua dengan maksud yang berbeda saat mulai tanganku mengocok miliknya cepat.

“akkhh.. akkhh..”

Mulai menikmati permainan ini, keseimbangan Taeyeon akhirnya berkurang menyebabkan tubuh kami terhuyung ke belakang, ke arah meja yang membelakangi pintu kamar.

Kami tetap berciuman penuh nafsu, seraya ketiga jariku terus menerus mengocok vaginanya.

Taeyeon mendesah tertahan akibat perlakuanku, dan sejurus kemudian, tanganku sudah terasa hangat oleh cairan orgasme Taeyeon.

Merasa tak tega melihat kedua tangan kecilnya yang sedari tadi menyanggah beban tubuh kami berdua, kuangkat tubuh Taeyeon dan mendudukkannya diatas meja tanpa melepas ciuman kami hingga beberapa benda jatuh dan menimbulkan bunyi cukup berisik.

Aku tetap tidak peduli.

Tangan Taeyeon yang kini sudah terbebas, diarahkan olehku untuk membuka celana yang baru saja kupakai ulang.

Cuk! Taeyeon melepas ciuman kami.

Ia menunduk dan bermaksud melepas resleting celanaku ketika terdengar bunyi ketukan dan pintu yang dibuka.

“hyung, kau baik-baik saja?” suara khas Ryeowook dari belakang, membuat merasa ingin mati saat itu juga.

Dengan reflex, kuraih tubuh mungil Taeyeon yang tadi sedikit terpisah oleh jarak berdiriku dan posisi duduknya dimeja lantas memeluknya erat-erat hingga kini tubuhnya terlindungi oleh dekapanku.

Sekuat tenaga aku berusaha menutupi pandangan orang –tidak tahu siapa lagi yang mungkin sedang berdiri di belakang- dari tubuh polos Taeyeon saat ini.

“tutup pintunya!” bentakku kasar tidak berniat berniat memalingkan kepala.

“hyu-hyung, jeo-jeongmal mianhae” kudengar ada sedikit nada gusar dalam suara Ryeowook sebelum ia menutup pintu kamar.

***

Author POV’S

@dorm Suju, 03.01am


“kenapa kau, Ryeong? Mana Jungsoo hyung?” Donghae -yang sedang melepaskan sepatunya- membuka suara terlebih dahulu setelah melihat kedatangan Ryeowook.

Raut muka Ryeowook memang terlihat berbeda dari sebelumnya. Sulit untuk dijelaskan. Hal inilah yang membuat para member menjadi penasaran hingga hanya Donghae yang  mampu menyuarakan kecemasannya.

Sebersit pikiran mengenai hal yang tidak-tidak terjadi pada sang leader kembali melintas di benak mereka, mengingat tadi –ketika baru memasuki ruangan dorm- semua member mendapati suara berisik seperti benda yang berjatuhan terdengar dari arah kamar Jungsoo.

“a-ani.. aniyo” Ryeowook menjawab dengan terbata-bata. Kekagetannya ketika melihat peristiwa tadi belum pulih sepenuhnya.

Bukan karena apa, Reyeowook memang  tidak benar-benar melihat tubuh polos gadis yang dipeluk hyungnya karena terhalang oleh punggung kokoh Jungsoo dan posisi mereka yang membelakangi pintu kamar.

Tapi Ryeowook berani mempertaruhkan apa saja  untuk yakin bahwa gadis itu adalah Kim Taeyeon.

Entah senang atau khawatir yang harus dirasakan sekarang oleh ia dan member lainnya.

Senang untuk mengetahui keceriaan leader mereka yang selama sebulan terakhir ini hilang akhirnya bisa kembali dengan hadirnya Taeyeon, atau khawatir untuk mengetahui campur tangan agensi dan fans mereka yang akan menciptakan lagi luka di hati kedua orang tersebut.

“demi Tuhan Kim Ryeowook! Kami tidak memintamu  untuk mengecek keadaan Jungsoo hyung lalu kembali dengan ekspresi tertekan seperti itu.” Donghae tetap bersuara. Member lain malah terlalu lelah untuk memperdebatkan masalah ini.

“…”

“oh ddoaesseo! Biar aku mengecek  sendiri”

“hyung! Andwe!” Ryeowook mendapati dirinya setengah berteriak  saat Donghae bangkit dari duduknya dan hendak berjalan ke kamar Jungsoo.

“waegeurae? Hyung yeogisseo” dan akhirnya 3 kata itu berhasil membuat kedelapan kepala yang berada di ruang tengah dorm menoleh bersamaan kearah datangnya suara.

Eunhyuk yang bereaksi duluan dan menghampiri leader mereka.

“hyung? Gwenchana? Apa yang.. mwoya?? Kim Taeyeon-ssi?” kekagetan terpancar dalam nada suara Eunhyuk terutama pada bagian terakhir kalimat ketika menyadari Taeyeon –dengan penampilan seadanya- berdiri di belakang Jungsoo.

Gadis itu terlihat sedikit pucat namun masih menampilkan seulas senyum yang membuatnya tetap cantik.

“annyeonghaseyo oppadeul.. eoraenmanhieyo” Taeyeon maju lalu membungkuk sedikit untuk menyampaikan salamnya.

Ia bisa saja tertawa tebahak-bahak melihat  ekspresi konyol dari wajah tiap-tiap member Suju saat menanggapi salamnya itu sampai ia sadar bahwa hal ini tidak mungkin terjadi mengingat situasi sekarang.

“kalian diam saja?” Jungsoo memprotes kelakuan para dongsaengnya yang tidak membalas sapaan Taeyeon.

“….”

“untuk apa dia kemari, hyung?” magnae bersuara.

Pertanyaan dingin itu jelas ditujukan untuk Jungsoo, namun pandangannya yang menusuk malah dilayangkan kepada sosok Taeyeon disebelah, membuat gadis itu menundukkan kepala dalam-dalam.

“Taeyeon kemari untuk menyelesaikan semuanya. Kami memutuskan untuk kembali bersama, dan Kyu, hyung mohon berhentilah melotot seperti itu.” Timpal Jungsoo berusaha menjelaskan dengan cara yang sesederhana mungkin kepada para dongsaengnya.

Kyuhyun akhirnya tersadar. Ia memalingkan wajahnya sebentar ke arah hyung yang tadi menegurnya lalu dengan acuh tak acuh berbalik menuju ruang makan tanpa mengucapkan sepatah kata.

“anak bodoh” gumam Jungsoo setelah Kyuhyun benar-benar hilang dibalik pilar pemisah ruangan. Ia lantas berbalik untuk melihat keadaan Taeyeon disebelahnya yang tampak sedikit terkejut dengan perilaku Kyuhyun.

“Taeng, gwenchana?” hanya ini pertanyaan yang mampu ia lontarkan pada gadis itu. Taeyeon bergeming, tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“kurasa sebaiknya hyung mengantarkan Taeyeon pulang. ini sudah terlalu larut” Sungmin memecah keheningan yang terjadi selama beberapa detik.

“ne..arasseo” ujar Jungsoo tanpa memalingkan kepala.

Sejurus kemudian ia sudah menarik tangan Taeyeon-yang masih sempat membungkuk dan mengucapkan salam perpisahannya-keluar dorm dengan perasaan campur aduk.

Jujur ia merasa heran dan sedikit kesal dengan suasana yang diciptakan oleh para dongsaengnya tadi. Ia yakin dulu dongsaeng-dongsaengnya tidak akan keberatan dengan segala bentuk hubungan yang ia jalani dengan gadis seperti Taeyeon.

Tapi kenapa hati kecilnya merasa bahwa mereka justru kurang menyukai gadis itu sekarang?

***

Still Author POV’S

@studio room, 07.03pm


“sudah selesai siaran pertama?”


“nee..”

“sedang break?”


“nee..”

“member yang lain?”


“sudah pergi untuk schedule mereka.. tinggal Kyuhyun yang menemaniku untuk melanjutkan siaran kedua”

“hmm.. oppa sudah makan?”


“baru saja mulai. Kau?” Jungsoo memindahkan ponsel dari tangan kanannya lalu menaruh ponsel itu di meja dan mengaktifkan loudspeaker seraya membuka kotak makanan yang tadi manager hyung bawakan untuknya.

“tentu saja sudah” ujar Taeyeon lagi dari ujung telpon. “geureom, oppa aku tutup dulu. Sebentar lagi kami tampil”


“jakkam! Kita jadi bertemu malam nanti? Kau tidak sibuk diatas jam 9, bukan?” Tanya Jungsoo cepat-cepat sebelum Taeyeon menutup telpon.

“ne.. aku tidak terlalu sibuk hari ini, tapi bukankah oppa yang justru sibuk syuting sebentar untuk menjadi seorang suami yang baik?”Taeyeon berbicara dengan nada bergurau.

“utkijima~ Kim Taeyeon”

“mwohaeyo? Aku hanya berkata yang sebenarnya”


“terserah padamu agasshi. Tapi syuting sebentar dibatalkan jadi kita bisa bertemu malam ini”

“arasseoyo Park Jungsoo-sshi.. jigeum geuno”


“ya! Siapa suruh kau menutup telpon dulu?”

“apa lagi? Kami akan segera naik panggung oppa!”


“kau tidak ingin mengatakan sesuatu?”

“sesuatu apa?” seru Taeyeon tidak sabar.

“kau benar-benar tidak mengerti maksudku?”

“….”


“Taeng?”

“saranghae Park Jungsoo”


Tuut..


Taeyeon yang benar-benar menutup telpon kali ini. Membiarkan Jungsoo yang terdiam sejenak, berusaha mencerna percakapan barusan sambil menatap ponsel hitam itu dengan senyum yang mengembang sempurna.

Taeyeon bilang cinta padanya dengan cara yang amat sederhana, dan memang bukan untuk pertama kalinya, tapi hal itu tetap bisa membuat Jungsoo senang bukan kepalang.

Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tetap tersenyum lebar. Tidak tahu apa lagi yang bisa ia perbuat untuk mengekspresikan kebahagiaannya itu.

“baru selesai menelpon dengan Kim Taeyeon kurasa” sapa Kyuhyun yang baru kembali ke ruangan dengan cara yang yang benar-benar tidak biasa.

Jungsoo lantas memutar kursi dan mendapati Kyuhyun yang sudah duduk disebelahnya dengan memegang 2 gelas latte hangat.

Belum sempat ia membuka mulut untuk menanyakan kemana saja anak ini, Kyuhyun sudah duluan berbicara.

“hyung mau? Kubelikan tadi untukmu” tawarnya dengan nada datar tanpa melihat Jungsoo. Kyuhyun malah pura-pura sibuk membaca script untuk siaran mereka selanjutnya.

Dengan ragu Jungsoopun menerima gelas yang disodorkan.

Sejujurnya sudah seminggu ini hubungannya dengan Kyuhyun seperti sedikit bertambah canggung. Baiklah, magnae ini tetap bersikap manja ataupun bersikap kurang ajar pada hyung-hyung lain terutama pada dirinya. Tapi jika dugaan Jungsoo benar, ia merasa tiap kali sedang membicarakan Taeyeon atau hubugannya yang telah membaik dengan leader SNSD itu, Kyuhyun berubah menjadi seseorang yang sinis.

Akh.. mungkin tidak! Bukan hanya dia, member lain juga. Hanya memang Kyuhyun yang lebih menonjol dalam menampilkan perubahan itu.

Dan sepertinya Jungsoo harus bertanya sekarang. Sekedar meminta penjelasan singkat mengenai hal ini. ia tidak akan mungkin terus menjalani hubungan –bahkan dengan seseorang yang sangat dicintainya- tanpa adanya dukungan dari para member Suju.

Jungsoo lalu menggeser kotak Styrofoam yang berisi makanan ke ujung meja. Ia memang beniat makan tadi, tapi karena ingin memulai perbincangan, selera makannya sekarang hilang entah kemana.

Kyuhyun menoleh sedikit melihat kelakuan hyungnya, dan ia yakin setelah ini Jungsoo akan mulai mencecarnya dengan pertanyaan mengenai sikapnya yang berubah. Sadar bahwa ia tidak ingin salah bicara nantinya, Kyuhyun pun buru-buru bangun dan melangkah keluar.

“kau mau kemana Cho Kyuhyun?” terlambat, Jungsoo sudah bereaksi. Ini memang buruk, tapi akhirnya Kyuhyun berhenti melangkah dan mulai memutar otak untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya.

“bisa kau berbalik? Hyung mau menanyakan sesuatu.” Tambah Jungsoo.

“nee?” magnae berbalik dengan senyum konyol diwajahnya. “hyung aku mau keluar sebentar mengambil gula, lattenya terlalu pahit.”

Bodoh! Benar-benar bodoh! Kyuhyun memarahi dirinya sendiri. Alasan ini benar-benar bodoh. Mungkin anak umur 5 tahun pun akan tertawa mendengarnya.

“nanti saja. Hyung hanya sebentar.” Jungsoo ikut berdiri. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia menatap dongsaengnya sebentar sebelum melanjutkan.

“langsung saja Kyu, apa kau dan member lain tidak suka hyung kembali berhubungan dengan Taeyeon?” tanyanya langsung. Ia menunggu sebentar untuk mendapat jawaban namun sepertinya Kyuhyun tidak berniat bicara.

“sudah berapa lama aku jadi hyungmu, Cho Kyuhyun? Jujurlah.. hyung tidak akan marah atas penjelasanmu” Jungsoo maju selangkah dan keheningan berlangsung selama beberapa saat hingga akhirnya sang magnae bersuara.

“hyung, kami bukannya tidak menyukai kalian berdua berbaikan, percayalah.. hanya saja kami takut tekanan yang lebih berat akhirnya menimpamu terlebih Taeyeon.”

”maksudmu?” Jungsoo mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan arah perbincangan ini.

“maksudku?” ulang Kyuhyun dengan raut wajah yang lebih membingungkan.

“yah.. maksudmu.. Kyu, berbicaralah yang jelas.. Hyung tidak mengerti.. Tekanan yang lebih berat? Terutama Taeyeon? Apa artinya?”

***

Leeteuk POV’S

@basement of SNSD building apartment, 11.07pm

“aku sudah dibawah..”

“…”


“nee.. mianhae..tadi ada sedikit urusan”

“…”


“arasseo.. geuno..” aku menutup flip ponselku dengan lemas. Sepertinya sudah tidak ada lagi tenaga ditubuhku ini.

Aku bahkan sampai terheran-heran mengapa aku bisa sampai ke basement gedung apartment yang dihuni anggota SNSD –setelah berkendara seperti orang tersesat selama 2 jam penuh di jalanan kota Seoul untuk menjernihkan pikiranku- dengan selamat walau aku tahu benar isi kepalaku hampir pecah karena pusing memikirkan perkataan Kyuhyun di studio tadi.

“sebenarnya ini sudah terjadi dari lama, dan kukira hyung sadar mengenai hal tersebut, tapi Taeyeon anak itu-benar-benar bodoh. Bagaimana mungkin ia tidak memberitahu hyung kalau selama kalian berpacaran, ia sering diminta oleh sajangnim kita untuk segera memutuskan hubungan kalian?”

“Tidak bermaksud menjelekkan atau apa, tapi beliau sungguh keras mencecar Taeyeon dan itu membuatnya tertekan. Dan seperti yang kubilang tadi, kami sangat menyetujui hubungan kalian, hyung tidak pernah terlihat begitu bahagia selain bersama Taeyeon.”


“Tapi dilain pihak, kami juga merasa kasihan dengannya. Belum lagi ditambah dengan reaksi fans kita atau fans SNSD yang lain jika sampai hubungan kalian go public. Kami tidak bisa membayangkan seberapa besar apa usaha kalian dalam mempertahankan hubungan itu nantinya.”


“Kami sangat menyayangimu hyung-terutama aku. Hanya itu yang membuat kami berani untuk memikirkan kemungkinan konyol ini”


Begitulah kira-kira kalimat penjelasan dari Kyuhyun yang masih  teringat olehku.

Sesaat aku ingin marah pada Taeyeon. Bagaimana mungkin ia menyembunyikan semua ini dariku? Dengan waktu yang cukup lama? Seharusnya ia menjelaskan ini sejak seminggu yang lalu saat aku tahu benar waktu itu aku hanya mendapati diriku yang sangat merindukan belaiannya.

Tapi setelah aku kembali berpikir ulang, Taeyeon tidak bersalah sepenuhnya. Gadis itu hanya menjalankan tugasnya dalam hal mencintaiku. Dan aku yang malah terlalu bodoh untuk menikmati cinta itu tanpa berniat mengorbankan apa-apa.

Tok-tok..


Bunyi ketukan di jendela mobil menyadarkanku dari lamunan. Kuputar kepala dan kulihat ada Taeyeon yang sedang tersenyum di luar sana. Seketika itu juga aku merasa lega, senyum gadis itu benar-benar membuatku nyaman.

Lantas kubuka pintu mobil dan tanpa banyak berpikir, kupeluk gadis itu kuat-kuat sampai ia berjinjit.

“oppa waegeurae?” Taeyeon menepuk-nepuk pundakku.

“…” Aku terdiam sejenak, masih ingin menikmati momen ini.

“mianhae.. jeongmal mianhae” aku menarik napas sebentar, mencoba mengontrol diriku yang sepertinya ingin menangis.

“…..”

“karena aku, kau menanggung semuanya sendiri.” Tambahku lagi. Bisa kurasakan Taeyeon berhenti menepuk-nepuk pundakku dan berniat melepaskan diri namun aku tidak membiarkannya.

Aku tetap memeluknya.

“maksud oppa?” tanyanya gelisah. Kupererat pelukanku sebelum menjawab.

“dongsaengku sudah memberitahukan semuanya. Kau dicecar Sooman sajangnim karena berhubungan denganku bukan? Kenapa kau tidak memberitahuku? Demi Tuhan, kenapa tidak? Berhentilah menjadi tegar dan bagi bebanmu denganku. Kalau tidak begini, apa gunanya kita berpacaran?”

Aku bisa merasakan keterkejutan Taeyeon. Dan karena kelengahanku, ia akhirnya dapat melepaskan pelukan kami.

Taeyeon mendongkak menatapku dengan tatapan tak percaya. Bisa kulihat air mata telah jatuh dipipinya.

“oppa.. astaga.. maafkan aku, aku tidak berniat menyembunyikannya darimu, aku berniat menceritakan semuanya seminggu yang lalu.. percayalah” ucap Taeyeon cepat-cepat.

Aku hanya tersenyum tipis.

Kuarahkan ibu jariku ke wajahnya dan menghapus air mata gadis ini yang jatuh.

“aku percaya padamu.” Jawabku tulus. “dan Kim Taeyeon, apa besok kau sibuk?”

“wae oppa?” Taeyeon menatapku bingung.

“kita pergi bersama ke kantor dan memberi pengertian pada sajangnim. Kau mau?”

Taeyeon tampak takjub mendengar ajakanku, tapi akhirnya ia menganggukkan kepala berkali-kali, setuju dengan usulku.

***

Author POV’S

@Jungsoo’s Car, 11.17pm


“kita mau kemana sekarang?” Tanya Taeyeon pada Jungsoo yang sedang menyetir.

“ke laut” jawab Jungsoo sekenanya, ia sedang berkonsentrasi pada jalanan kota Seoul yang masih ramai menjelang tengah malam.

“laut? Bada? Azzaa!” seru Taeyeon bersemangat.

15 menit kemudian sedan putih milik Jungsoo yang membawa mereka sudah tiba di tempat tujuan.

Taeyeon yang memang pada dasarnya menyukai laut langsung berlari keluar mobil begitu diparkirkan di tempat sepi.

“laauuttt” teriaknya sambil merentangkan kedua tangan lebar-lebar dan mulai menikmati hembusan angin disana.

“kau suka?” Jungsoo yang tiba-tiba datang langsung memeluk gadis itu dari belakang dan membenamkan kepalanya di leher Taeyeon seraya menghisap-hisap kecil bagian itu.

“enngghh” Taeyeon menggeliat geli dan mengangguk pelan.

Hisapan kecil Jungsoo tidak berhenti, ia malah mulai menggigit leher hingga telinga Taeyeon sampai meninggalkan bekas kissmark disana.

“nngghh..oppahh” Taeyeon mendesah dan membuat Jungsoo makin tak terkendali. Dengan sekali hentakan, ia memutar tubuh mungil Taeyeon dan menciumnya ganas.

Taeyeon menyambut ciuman itu, ia melingkarkan kedua tangannya dileher Jungsoo berharap dapat memperdalam ciuman mereka.

Jungsoopun yang kedua tangannya bebas mulai menelusup ke dalam kemeja besar milik Taeyeon dan mencari-cari pengait bra yang dipakainya.

Setelah didapat, Jungsoo baru menyadari bahwa mereka sedang melakukan hal ini di ruangan terbuka.

“pegang aku”  Jungsoo melepas ciumannya dan mulai menggendong Taeyeon dalam pelukan menuju mobil.

***

Taeyeon POV’S

@Jungsoo oppa’s car, 11.47pm


“akh” Jungsoo menghempaskanku di jok belakang mobil miliknya. Setelah menutup dan mengunci semua pintu, ia mulai membuka semua baju miliknya. Kubantu dia dan kini tubuhnya polos tak berbaju.

Aku kemudian maju dan menciumnya lagi hingga pria itu tersudut di pintu mobil. Kupijat pelan dada bidangnya sambil terus menciumi bibir dan lehernya.

Setelah puas, ciumanku turun ke perut Jungsoo, menjilati sebentar pusarnya, dan tibalah aku ke tempat juniornya yang sudah menegang sempurna.

Aku bangun sebentar dan setengah berlutut kuhadapkan wajahku ke juniornya lalu mulai memijat-mijat cepat benda itu.

“oohh.. Taeng-aahh” Jungsoo mendesah –yang terdengar sangat seksi ditelingaku- ketika kumasukkan junior itu kemulutku, mengeluarmasukkannya, dan menggaruk pelan batang itu dengan gigiku.

“taeng.. akh Taeng..” Jungsoo memegang kepalaku yang naik turun karena hal ini.

Hingga waktu berselang, Jungsoo akhrinya berorgasme yang pertama.

Aku membersihkan sisa sperma dimulutku dan tanpa disuruh, mulai kubuka kemeja yang membalut tubuh ini sedari tadi.

“taeng” Jungsoo menangkap tangan kecilku. “jangan dibuka, aku tidak mau kejadian di dorm terulang lagi.” Jelas Jungsoo seraya menarikku naik ke atas panggkuannya.

Mula-mula ia menciumku, menghisap-hisap leherku dan sekarang Jungsoo membuka tiga kancing teratas kemeja yang kupakai lantas melepaskan bra yang kupakai hingga benda itu jatuh setengah melingkari perutku.

Dadaku yang sudah polos dilumat habis-habisan oleh Jungsoo.

“nnngghh.. aakkhh.. oppaah” racauku tak jelas seraya menekan kepalanya agar lebih dalam mempermainkan milikku.

Kedua tangan Jungsoo yang bebas mulai turun dan menelusup ke dalam rok yang kupakai.

Ia mengelus-elus vaginaku dan mencubit kecil klitorisku yang masih terbungkus celana dalam.

“hhmm.. haahh” desah Jungsoo dan aku disela-sela ciuman kami.

Setelah merasa cukup, dengan tak sabaran Jungsoo lalu menarik cepat celana dalam itu hingga robekannya mengenai vaginaku.

“akh!appo” jeritku kesakitan.

Cuk! Jungsoo melepas ciumannya dan mendongkak melihatku.

Ia berkata gusar, “kau tak apa? Mianhae Taeng, aku tidak punya pilihan lain. Kita bisa berhenti sekarang kalau kau mau.” Aku menggeleng cepat menanggapinya dan kembali menciumi leher pria ini.

Merasa diijinkan, Jungsoo lalu memasukkan 3 jari sekaligus ke lubang milikku.

“aakkhhh ooppaahh” desahku keras saat ia mulai mengocok kuat milikku.

Setela hampir berorgasme, Jungsoo melepas jarinya dan menurunkanku dari pangkuannya.

Kini gilaran dia yang berlutut menghadap vaginaku. Diangkat kedua kakiku dan dilingkarkannya di sekitar pundaknya hingga wajahnya seakan hilang dibalik selangkangku.

Aku tak tahu apa persisinya yang dilakukan Jungsoo dibawah sana, tapi ini sungguh nikmat.

Aku mendesah –bahkan berteriak- menyebut-nyebut nama Tuhan untuk tujuan yang aku sendiri tak tahu itu apa ketika kurasakan lidahnya mulai menjilat dan memelintir isi dalam vaginaku juga kedua bibir tipisnya yang basah mencubiti klitorisku.

Tidak lama, akhirnya akupun berorgasme. Jungsoo yang tanpa jijik sekalipun menelan cairanku hingga habis.

Ia lantas bangun dan kembali mendudukkanku di pangkuannya. Dengan sebelah tangan ia mengarahkan juniornya kelubang milikku.

“bergeraklah” pintanya persis ditelingaku. Aku yang menurut kemudian melingkarkan tanganku dipundaknya dan mulai bergerak naik turun. Jungsoo memegang pinggangku dengan sebelah tangan sementara tangan yang satunya ia julurkan ke langit-langit mobil untuk melindungi kepalaku agar tidak terbentur disana.

Mobil yang kini kami naiki sampai ikut bergerak dan mengeluarkan bunyi derit akibat kelakuanku dan Jungsoo.

“ookkh.. aakkhh” “hhmmm..hhaahhh..haahhh” desah kami bersamaan.

Cukup lama kami bergerak hingga akhirnya aku berorgasme untuk kedua kalinya diikuti Jungsoo oppa.

Kami berhenti sejenak mengatur napas. Masih tetap dengan posisi persetubuhan ini.

“gomawo Kim Taeyeon” bisik Jungsoo. Aku memundurkan tubuh lalu menatapnya dalam diam dan senyuman.

Kuanggukan kepala sekali dan mulai mengusap wajah pria ini yang dipenuhi oleh peluh keringat.

***

Next day

@sooman sajangnim’s office, 05.07pm


“jadi kalian memutuskan untuk tetap bersama?” Lee Sooman sajangnim, pria berperawakan gemuk pendek berusia sekitar 50 tahunan yang menjabat sebagai pemimpin agensi artis terbesar di Korea saat ini sedang duduk dikursinya dan menatap  tajam kearah berdirinya Jungsoo dan Taeyeon.

Hari ini, tepatnya 20 menit yang lalu, mereka berdua –Jungsoo dan Taeyeon- sudah mengakui segala bentuk hubungan mereka, alasan-alasan untuk mempertahankannya, serta seluruh pertanggung jawaban yang akan mereka ambil mengenai fakta ini.

“sejujurnya aku sudah berulang kali menperingatkan Taeyeon untuk memutuskan hubungan kalian dan tidak padamu Jungsoo, karena aku tahu kau orang yang keras kepala dan susah diatur.”

Beliau berhenti sejenak dan merubah posisi duduknya dengan menopangkan beban tubuh ke kedua sikunya di atas meja.

“tapi sekarang aku menyerah. Walau begitu, aku –untuk terakhir kalinya- ingin memperingatkanmu juga Taeyeon, tentang reaksi fans kalian nantinya. Dan lebih-lebih kudengar, ELF sangat protective terhadap idolanya” nada suara Sooman sajangnim benar-benar tenang.

Ia menatap bergantian pada dua orang itu dengan senyum menantang yang menjadi cirri khasnya.

Jungsoo yang menjadi objek utama dari pelampiasan pertanyaan ini hanya balas tersenyum. Ia memalingkan wajah sebentar ke arah Taeyeon dan meraih tangan gadis itu untuk digenggamnya sekedar mencari sedikit kekuatan untuk menjawab.

“sajangnim, aku mencintai ELF lebih dari apapun di dunia ini, karena mereka juga aku punya kekuatan untuk menyebut diriku sebagai seorang malaikat. Dan tidak keraguan atas fakta bahwa mereka juga mencintaiku-mencintai kami Super Junior. Inilah yang membuatku yakin bahwa dengan adanya Taeyeon –atau siapapun gadis lain- sebagai pendamping hidup yang dapat membahagiakanku kelak, mereka pasti akan menerimanya cepat atau lambat tanpa beban tuntutan karena bahagia kami-bahagia Super Junior dan ELF adalah sama.”

Jungsoo menutup pernyatannya lagi-lagi dengan senyuman.

Sooman sajangnim nampaknya tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Beliau hanya mendengus tertawa mendengar jawaban yang begitu pasti dari salah satu anak didiknya.

Jungsoo tampak puas, ia kembali menoleh kearah gadis yang tangannya sedang ia genggam dan mendapati Taeyeon juga tengah tersenyum manis padanya.

Melihat keadaan ini, ia tahu bahwa mulai dari kemarin, sekarang, dan seterusnya ia akan terus melihat senyuman itu sebagai penyempurna hari-harinya.

THE END

Gimana readers? Panjang sekali ffnya? Author cuman berniat buat ngabisin cerita ini tanpa banyak meninggalkan tanda tanya.. jadi, author harap readers sekalian puas atas

ceritanya.. dan sekali lagi maaf apabila terlalu panjang dan terlalu kurang hot..^^

 

Saran dan kritiknya tetap saya harapkan dari para readers semua..

 

Gamsahamnida yeoreobeun^^

 

ADORKABLE FOREVER!

 

Annyeong~ #bow

Annyeong~^^ #bow

15 thoughts on “Love Of The Leaders (Sequel)

  1. Yadong -_-
    Melakukan hubungan intim dengan sesama leader “̮ ƗƗäƗƗäƗƗä “̮ (•ˆ▼ˆ•) “̮ ƗƗäƗƗäƗƗä “̮

  2. syukur deh akhirny direstui jg am atasan. sweet bgt kencn dilautny spt kesukaan Tae yg sk laut(in real). always yadong tngkt akut utk The Leaders👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s