[YesYul] Jealous..

Sumber: http://koreannc.wordpress.com/2011/09/28/jealous-2/

 

1. Author : Yesung’s Girl

2. Judul :  Jealous..

3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot

4. Cast:

– Kwon Yuri / Yuri So Nyeo Shi Dae (SNSD)
– Kim Jongwoon / Yesung Super Junior
– Choi Minho / Minho SHINee

——————————————————————————————-

-Yesung’s POV-

“Kau tahu apa yang kusukai dari dirimu, sayang..?” Gumamku sambil memilin2 rambut panjang seorang yeoja yang ada di pangkuanku.

Yeoja itu hanya tersenyum malu. “Hm?” Gumamnya dengan wajah memerah. “Mwo, Oppa?”

Kupandang wajahnya begitu dekat, kucium lembut bibirnya. “Kau. Hanya kau,” ucapku sambil tersenyum geli.

“Ah.. Oppa..” Sekali lagi ia tersipu malu, salah tingkah, wajah memerah, kejang2 (?). Eh, salah. Yang terakhir itu typo.

“Yuri-ya..” Kudesahkan namanya di telinganya dengan imej sexy. Kukedipkan mataku perlahan dan aku mencium pipinya. Ia semakin tersipu malu.. Wajahku kian mendekat dan perlahan bibirku melumat lembut bibirnya.

“Mmmph..” Yuri mendesah begitu sexy di tengah ciuman kami. Tanganku meraba-raba punggungnya, mengelusnya perlahan sementara kedua tangannya melingkar di leherku. “Oppa..”

“Yuri-ya..” Desahku lagi, kemudian kembali mencium bibirnya.

“O.. Oppa..”

“EOMMAAAAAAAAAA!!!!!!!!” DUK! DUK! DUK!!! Pintu kamar yang sudah kukunci rapat-rapat dengan tujuan mau yadongin Yuri (?) bergetar digedor2. Aku berdecak kesal, kemudian kuturunkan Yuri dari pangkuanku. Wajahnya masih terlihat kaget karena gedoran di pintu itu. Aku mencium bibirnya singkat, kemudian segera berjalan malas2an menuju pintu.

“Eommaaaa..” Seorang namja cilik yang sukses menganggu malamku dengan Yuri langsung menangis kejer menyelonong masuk lalu memeluk kakiku.

“Yak! Aku bukan eomma-mu, bodoh,” gerutuku kesal, kemudian sedikit berlutut meraih tubuh kecilnya itu dan menggendongnya. “Kau ini kenapa? Hei? What’s up, maaaan?!”

Namja kecil itu menangis tersedu-sedu. “Hueeee.. Aku ngompooool..”

“MWO?!” Jeritku kaget karena tangan kananku sedang memegangi pantatnya. “GYA!!!! Kim Jiwoon! Kenapa tidak bilang daritadi hah?!” Segera saja kududukkan tubuhnya itu di karpet kamar. Gyaaa.. Tangan mungilku ini ternodai oleh.. O.. Ompolnya..

Yuri segera beranjak dari ranjang dan mengambil alih menggendong Jiwoon. “Cup cup sayang, sini eomma gantikan celananya..” Ucap Yuri penuh nada keemakkan (?). Eh maksudnya keibuan.

“Huuu..” Jiwoon masih terisak di pelukan Yuri. Sedangkan aku masih galau ngurusin tanganku yang ternodai ompol Jiwoon itu.

Yuri menggendong Jiwoon menuju ke kamar mandi. Sebelum berlalu, Yuri sempat berbisik kepadaku. “Nanti saja ya, Oppa,” bisiknya sambil tersenyum geli.

Aku menghela nafas. “Iya iya,” sungutku.

Yuri tertawa geli lagi. Kemudian segera membawa Jiwoon menuju ke kamar mandi.
_____________________________________

Masih ada yang inget gueh? Yak, Kim Jongwoon. Atau Yesung. Suami sah dari seorang yeoja cantik bernama Kwon Yuri, dan juga seorang appa dari namja mungil bernama Kim Jiwoon yang barusan ngompol di tanganku itu. Ohaha, jangan dibahas.

Baru saja 2 tahun berlalu setelah Yuri melahirkan namja itu. Sebetulnya sih aku lebih mengharapkan punya seorang anak berjenis kelamin yeoja.. Tapi, ah ya sudahlah. Mana mungkin aku kalap membunuh Jiwoon cuma gara-gara dia seorang namja. Oya, namanya Kim Jiwoon. Sekilas mirip seperti namaku, ya..

Sehabis melahirkan Jiwoon, entah kenapa Yuri malah jadi semakin langsing dan sexy. Biasanya kan kalo abis melahirkan itu tubuh yeoja kan udah gak asik (?) lagi.. Nah si Yuri? Malah makin kenceng aja.. *berasa motor GP*

Dan.. Dan justru itu yang membuatku semakin.. Ouh. Tahu sendiri kan, Yuri itu yeoja kayak apa. Famous. Satu Korsel mana ada yang enggak kenal dia *oke ini lebay -_-*. Semua namja-namja tampan, Yuri kenal. Contohnya Lee Taemin si dancing machine yang kemampuan dancenya gak ketulungan itu.. Atau Cho Kyuhyun, anak pengusaha perusahaan besar di Korea itu. Uh.. Aku jadi semakin waswas, rasa jealous-ku semakin besar..

Terkadang aku merasa minder dengan diriku sendiri. Banyak yang bilang kalau aku ini namja aneh yang konyol dan.. Mengerikan. Uh. Dan yang semakin membuatku merasa terhina.. Adalah saat mereka berkata, “Kenapa Kwon Yuri yang sempurna, cantik, dan sexy itu mau ya sama namja aneh kayak Kim Jongwoon itu?”

Gondok menguras bak mandi.

Uh! Uh! Tapi.. Ah, aku mah nggak peduli sama kata-kata mereka!! Yang jelas toh emang Yuri mau sama aku, kan? Kita juga sudah menikah. Nggak akan ada lagi yang bisa misahin kita. Muahahahaha. Kecuali yeoja manis kayak yang nulis FF ini.. *ditimpuk readers* *ampuuuun -_-*
_____________________________________

“Huaaahhhmmm..” Aku menguap setelah bangun dari tidur panjangku (?). Sambil menggaruk2 kepalaku, kuarahkan pandanganku ke penjuru kamar. Yuri tidak ada di sampingku. Hm? Kemana dia?

“Huaahhh..” Masih sambil menguap, aku mulai bangkit dari tempat tidur.

“Hm?” Gumamku saat.. Melihat sebuah kotak berbentuk hati berwarna pink yang ada di meja rias kepunyaan Yuri. “Apaan nih?” Aku membuka tutup kotak itu, dan.. Jebreettt. Sebuah coklat berukiran tulisan “CHOI MINHO” besar-besar terukir di atas sebuah cokelat berbentuk hati itu. Wajahku langsung merah padam, apalagi saat kutemukan sebuah kartu bertuliskan sejumlah kata-kata di dalamnya yang merupakan tulisan tangan Yuri. Ah? Apa-apaan nih? Yuri ngasih cokelat ke namja lain? Aigo.. A.. Apa-apaan ya ini..

“Oppa?” Tiba2 Yuri membuka pintu kamar dan mendapati aku yang tengah membuka kotak berbentuk hati itu. Yuri terlihat kaget, kemudian dengan segera ia menghampiriku dan meraih kotak itu dari tanganku. “O.. Oppa apa-apaan sih?” Serunya dengan wajah memerah, kaget, dan.. Uh.

“Siapa Choi Minho?” Tanyaku dengan pandangan menyelidik.

Yuri terlihat gelisah. Berkali-kali aku mencoba membuat kontak mata dengannya, tapi ia selalu menghindar. “Siapa dia?” Tanyaku sedikit melembut.

Yuri menyentakkan tanganku dari kedua pundaknya. “Ah.. Apaan sih Oppa? Kenapa? Oppa cemburu?” Ia berusaha terlihat tenang dan santai, tapi percuma. Aku bisa menangkap apa yang ia rasakan dari sorot matanya..

Aku menarik nafas. “Aku kan cuma tanya, sayang. Siapa Choi Minho? Dia temanmu? Hm?”

Yuri terlihat gusar. “Ah.. Sudahlah Oppa.. Aku capek, aku gamau bahas itu dulu,” Yuri terus-menerus mengalihkan pembicaraan.

“Yuri-ya!!” Tiba-tiba saja volume suaraku meninggi. “Jawab pertanyaanku. Siapa dia? Hei, aku sudah menanyaimu dengan baik-baik, sayang. Jawab aku. Aku tidak marah atau cemburu, aku hanya bertanya. Siapa dia?”

Yuri menatapku tidak suka. “Oppa kenapa sih?! Kok Oppa jadi posesif dan cemburuan gini?! Aku gak suka ya kalo Oppa kayak gini!” Tiba2 ia menjerit seperti itu.

Aku menjadi semakin panas.. “Hm? Apa kau bilang? Aku tidak posesif. Aku juga tidak bilang aku cemburu. Kau ini kenapa sih? Cuma ditanyain gitu doang juga..”

Yuri mendengus kesal. “Ah, udahlah Oppa. Aku gamau ribut ya. Oppa jangan cari masalah deh.” Sangkalnya kemudian berbalik keluar dari kamar.

“Yuri? Yuri-ya!! Tunggu!! Oppa belum selesai bicaraaaaa!!!!” Jeritku mencegahnya, tapi.. Ah, ia telah menghilang di balik pintu. “Sial!” Umpatku kesal sambil meninju dinding kamar, dan.. “OUGHH!!!!” Jeritku karena punggung tanganku langsung nyut2an begitu aku meninju dinding itu. Oh, no.. Memalukan. Niatnya mau keliatan dramatis kayak di sinetron tapi malah jadi korban sinetron gini.. -_-
_____________________________________

Oke. Sejak hari itu, Yuri menjadi aneh! Dia selalu mendiamkanku, tidak berbicara lagi denganku. Aish, sebetulnya siapa sih Choi Minho itu? Sialan..

Aku menghela nafas. Kuraih gagang pintu kamar dan menatap ruang tengah. Hanya ada Jiwoon yang tengah tidur-tiduran di sofa. Biasanya.. Minggu pagi seperti ini, Jiwoon selalu asyik bermain game dengan Yuri di sebelahnya. Dan.. Ngomong2 Yuri mana?

“Jiwoon. Eomma-mu mana?” Tanyaku. Jiwoon mengangkat kepalanya sedikit, kemudian menjawab, “Pelgi cama om-om ganteng..”

Jedier. Sepertinya aku harus memantau perkembangan acara TV yang ditonton Jiwoon. Ya Tuhan, kenapa namja mungil berusia 2 tahun seperti ini mengenal istilah om-om ganteng? Tapi aku tidak begitu memedulikannya, malah tertancap pada kata2 “PERGI SAMA OM-OM GANTENG.” Pergi sama om-om ganteng? Pergi BERSAMA om-om GANTENG?

“Siapa om-om-nya?” Tanyaku dengan alis terangkat.

Jiwoon mengangkat bahunya sambil masang muka sok asyik. “Mollayo, appa..”

Aku menghela nafas, mulai was was. Apa jangan-jangan si Choi Minho itu? Aish..
_____________________________________

-Yuri’s POV-

“Yesung Oppa sekarang menyebalkan, Minho-ya..” Dumelku kesal sambil mencurahkan segala isi hatiku pada seorang namja manis di depanku. Namja itu hanya mengangguk-angguk mengerti mendengarkan ceritaku.

“Ne.. Yuri noona. Tapi, kau tidak pantas kan menjelek-jelekkan suamimu di depanku? Hehehe,” ucap namja bernama Minho itu.

Aku mendengus kesal. “Biarkan saja. Memang dia menyebalkan, kok!”

Minho hanya tersenyum manis sambil menepuk2 punggungku. “Sabarlah. Dia namja yang baik, kan? Dia pasti akan berubah nanti. Percayalah, dia tidak akan betah jauh-jauh dari yeoja cantik seperti noona,” godanya.

Aku hanya tersenyum. “Hahaha. Gomawo,” ucapku. Kemudian aku menunduk menatap kotak cokelat yang ada di pangkuanku. Ya, kotak cokelat yang menjadi awal pertengkaranku dengan Yesung tempo hari. “Uffh. Padahal cokelat ini cuma perantara. Aku kan cuma mau memberikan cokelat yang kupesan dari dongsaeng-mu ini padanya. Tapi aku baru tau kalau ada ukiran namamu di cokelat ini begitu Yesung membukanya. Dan ternyata dongsaeng-mu itu mengira aku mau memberikannya padamu, jadi ia mengukir namamu di cokelat ini..”

Minho terperangah. “Ah.. Mianhae, noona..” Ucap Minho. Wajahnya terlihat penuh rasa bersalah.

“Ah.. Gwenchana.. Ini bukan salahmu atau salah dongsaengmu, Minho-ya. Ini salahku. Harusnya aku memberitahu dongsaeng-mu agar mengukir nama Yesung di atasnya..”

Minho tersenyum. “Sudahlah. Jelaskan saja yang sebenarnya pada Yesung hyung.. Dia pasti mau mengerti, kok,” Minho mengelus kepalaku perlahan.

“Ne..” Ucapku sambil tersenyum.

Minho tersenyum puas. “Baiklah. Ah, sudah malam. Mau kuantar pulang?”

Aku tersenyum. “Boleh..”
_____________________________________

Cklek! Dengan hati2 aku menekan saklar lampu kamar yang padam, dan.. Oops! Aku mendapati Yesung yang tengah melipat kedua tangannya di samping sofa. Kakinya bergerak-gerak menapak2 lantai *tau maksudnya kan? Kayak orang marah gitu lho. Hehehe*. Aku hanya terdiam sambil memandang ke arah lain..

“Dari mana saja? Pergi nggak izin. Telpon nggak diangkat. Sudah jam 10 malam. Jiwoon menangis daritadi karena tidak ada yang buatkan susu untuknya. Huh.. Apa itu yang disebut eomma yang baik?” Sindirnya sambil menyeringai sinis menyambutku.

Aku cuma diam sambil menunduk.. Tak berani menatap wajahnya.

Yesung mendengus kesal. “Jawab aku. Dari mana saja kau?” Tanyanya begitu dingin.

Tak terasa tiba2 air mataku menitik.. Langsung saja kupeluk tubuhnya. “Mi.. Mianhae, Oppa..”

Yesung tetap terdiam di tempatnya, tak membalas pelukanku atau apa.

Aku semakin kencang memeluk tubuhnya. “Se.. Sebetulnya.. Engh..” Aku melepas pelukanku. Kuraih tas selempangku dan mengeluarkan kotak cokelat itu. Mata Yesung membulat saat aku menunjukkan kotak itu.

Kusodorkan saja kotak cokelat itu ke hadapannya. “Sebetulnya ini cokelat buat Oppa.. Aku.. Aku ngga tau kalau ada tulisan Choi Minho di dalamnya. Mi.. Minho itu.. Temanku, Oppa.. Aku memesan cokelat ini dari dongsaengnya.. Dongsaengnya mengira aku mau memberikan cokelat ini pada Minho, padahal sebetulnya engga.. Mianhae, Oppa.. Ini cokelat.. Buat Oppa..” Air mataku mengalir saat bibirku mengucapkan itu semua..

Yesung terdiam. Wajahnya seakan mengerti akan semua yang kukatakan..

Kupeluk lagi tubuhnya. “Mianhae, Oppa.. Hiks.. Saranghae..”

Tiba2 sepasang tangan lembut menyentuh punggungku, memelukku. Ah.. Yesung ternyata balas memelukku. Diusapnya lembut rambutku. “Jeongmal, chagiya?” Gumamnya. Aku mengangguk dalam pelukannya. “Ah.. Chagi..” Yesung mempererat pelukannya. “Harusnya aku yang minta maaf,”

Aku tersenyum senang sambil melepas pelukanku dan menatap kedua matanya. “Gomawo, Oppa.. Aku semakin mencintaimu,” dengan gemas kucium lembut bibirnya. “Oya.. Selamat hari pernikahan yang ke-3, Oppa,” ujarku sambil tersenyum geli dan menyerahkan kotak cokelat itu.

Yesung tertawa. “Hahaha. Selamat juga, chagi.” Ia balas mencium bibirku. “Kalau begitu, kau bisa membayar hutangmu, tidak?” Tanyanya sambil tersenyum nakal.

Mataku membulat. “Hutang? Hutang apa?” Tanyaku polos.

Yesung menyentil ujung hidungku dgn jarinya. “Ah.. Jangan pura2 lupa, chagi. Jelas hutang saat Jiwoon menghancurkan malam kita itu, dong. Hihihi,”

Pipiku memerah. “Ah.. Oppa masih inget aja, sih?”

Yesung tersenyum2. “Iya doooong..” Aku tertawa geli mendengar jawabannya.

“Kalau begitu, bisa kumulai sekarang?” Ucapnya nakal sambil menggelitik daguku.
Aku tersenyum seduktif. “Tunggu apalagi?” Godaku. Perlahan tanganku mulai menyusuri bagian2 sensitifnya. Kutempelkan tanganku di pahanya yang masih tertutupi celana jeansnya itu.. Kemudian mulai bergerak ke samping, mengelus tonjolan yang ada di balik celananya.

“Ah..” Yesung mendesah kecil saat aku mengelus juniornya. “Aahhh.. Sekarang kau menjadi agresif sekali, chagi.. Sssh..” Gumamnya sambil mendesah. Matanya terpejam, kemudian terbuka lagi.

“Chagiiihhh.. Ahhh..” Yesung mulai meracau tidak karuan ketika aku mulai berlutut dan membuka celana dan underwearnya. Juniornya yang sudah menegang langsung kukocok dengan cepat, kemudian mulai kujilati benda yang mengasyikkan (?) itu. “Mmmphhh.. Ohhhh.. Chagiiihhh~ hhhh..” Desahannya yang sangat sangat menggoda itu membuat mulutku gatal ingin mengulumnya. Langsung saja kumasukkan juniornya ke dalam mulutku. Kumaju-mundurkan juniornya, lidahku bergerak2 menjilat twinsballnya. “AAAAAAH.. Chagiiihhh.. Sssh.. Ohhh..” Desahan Yesung benar2 membuatku semakin terangsang. Nafsuku sedang sangat besar saat ini!

Cairannya mulai keluar memenuhi mulutku. Untuk kali ini, tanpa sadar aku menelan habis cairannya. Padahal saat aku pertama kali melakukannya dengan Yesung, aku tidak pernah mau merasakannya sama sekali.

“Ahh..” Desah Yesung lega saat cairannya telah keluar seluruhnya. Juniornya yang masih lengket akan cairannya itu, kujilati lagi perlahan, tapi kali ini tidak kukulum.

“Engh..” Yesung mendesah lemas tergeletak di tempat tidur. Aku tertawa geli melihatnya. “Idih, cape ya? Hahaha, lemah ih,” ledekku sambil menjulurkan lidahku.

Yesung mendelik. “Enak aja. Siapa yang cape?” Ia langsung bangkit dari tempat tidur dan mendorongku hingga aku terhimpit di dinding. “Kau harus menerima balasannya,” godanya sambil menjilat bibirnya seduktif.

Aku tersenyum nakal. “Mmhh.. Memangnya Oppa bisa sepanas perlakuanku tadi? Hm?” tantangku sambil tertawa geli.

Yesung menjilati bibirnya memberikan sedikit cairan di bibirnya, kemudian dengan segera ia melumat bibirku ganas. Bibirnya yang basah membuatku semakin menikmati ciumannya. Tangannya bergerak mengelus2 dadaku yang jaraknya nggak jauh2 banget dari tubuhnya. Sambil sesekali mencubit2i nippleku yang mengencang dan menonjol dari balik tank-top-ku. “Mmm.. Mmh..” Aku hanya bisa mendesah geli karena tangannya yang nakal itu.

Yesung melepas ciumannya, kemudian aku menarik nafas dalam2 dan mendesah. “Aahhh.. Engghhh.. Oppa nakalllllll..” Rengekku sok manja sambil memukuli dada bidangnya. Yesung tertawa puas. “Oppa bilang apa? Oppa sih bisa lebih nakal daripada yang tadi, hahahaha~”

Yesung mulai menyenderkan tubuhku ke dinding lagi. Dengan lembut tangan mulusnya itu mengelus pipiku. “Sepertinya tank-top dan hotpants-mu ini mengganggu permainan kita, sayang,” rengeknya. Hihihi, bilang saja sudah mau membuka pakaianku.

“Kalau begitu.. Berikan hukuman yang sesuai pada mereka,” ucapku sambil tersenyum geli.

Yesung yang sudah merasa mendapat lampu hijau, langsung membuka pakaian dan underwearku. Setelah tubuhku sudah benar2 full naked, ia langsung merebahkanku di ranjang. Diciumnya perlahan kedua buah dadaku, membuatku kegelian. “Ah.. Ah.. Langsung saja, Oppa..” Pintaku. Tapi Yesung sama sekali tidak mendengar kata2ku, ia malah semakin menciumi payudaraku. Dan menghisapnya kuat2, membuatku merasa melayang.. Nikmat sekali rasanya. Senggol bacok \m/ (?).

“Aaahhh.. Aaahhh..” Rintihku karena hisapannya terlalu kuat, tapi juga nikmat. “Enggghhhh..” Kujambak rambutnya sambil sedikit menekan kepalanya agar semakin menghisapnya. “Aaahh..” Desahanku mereda setelah Yesung menghentikan hisapannya. Lidahnya mulai kembali menjilati putingku, menciumnya, lalu menjilat2nya lagi. “Aaahhh..” Uh, celana dalamku benar2 sudah terasa basah sekarang.

“Kau sudah basah, ya, chagi?” Tanyanya dgn senyum meledek. Aku cuma menjulurkan lidahku karena tubuhku rasanya masih lemas.

Yesung berlutut, wajahnya tepat berada di depan vaginaku. Ditariknya celana dalamku dan ia menemukan daerah pribadiku itu. Dijilatnya perlahan permukaan vaginaku, membuatku kegelian. “Ah.. Ah.. Oppaahh..” Lidahnya yang basah itu menerpa vaginaku dan memasukki lubangku, memberikan sensasi yang begitu nikmat. “Aaahhhhhhh..” Aku menjerit2 keenakkan. Hufth, untunglah kamarku dan Yesung ini di-set kedap suara. Kalau tidak.. Apa jadinya kalau si Jiwoon itu terbangun dan melihat appa-eommanya sedang melakukan hal yg tidak pantas dilihat anak usia 2 tahun sepertinya? Huh. Bisa2 dia jadi Lee Hyukjae generasi kedua!! *digampar readers bininya Unyuk*

“Aaahhh..” Desahanku muncul lagi saat ia menghisap vaginaku. Tubuhku bergetar, cairanku keluar dengan cepat dan aku langsung lemas. “Enggghhh..”

Yesung tersenyum puas. “Itu balasannya,”

Aku manyun sok ngambek. “Uhhh.. Atit tau,” Yesung tertawa geli. “Mana nyang atit? Cini, Oppa obatin,” Ia kembali berlutut, tangannya mengusap klitorisku, membuatku mendesah. Lidahnya kembali bermain dengan klitorisku, membuatku semakin mendesah-sah-sah. “Aaaaahhhhhh..”

“Udah ga atit kaaaannnn?” Godanya sambil mencium bibirku lembut.

Yesung mulai melebarkan kedua kakiku. Juniornya sudah menegang, ia mulai mendekatkan ujung juniornya di depan vaginaku. Perlahan bagian depan juniornya memasukki lubangku. Masih sedikit perih, sih. Tapi aku menahannya karena rasa nikmatnya akan lebih dari rasa sakit ini. “Enggh..” Aku tak dapat menahan rasa perihnya, sehingga rintihanku keluar.

“Sabar ya sayang..” Ucap Yesung begitu lembut. Wajahnya mendekat, ia mendekap tubuhku erat hingga nipple-ku menyentuh dada bidangnya. Diciumnya bibirku lembut, tangannya asyik meremas dan mengelus payudaraku.

Tidak begitu lama, juniornya utuh tertanam di bawah sana. Tanpa basa-basi Yesung menggerakkan juniornya keluar-masuk vaginaku. “Ahh.. Aahhh..” Desahan keluar dari mulut kami.

“Awwwhh.. Ahhhh..” Desahanku bertambah karena Yesung memainkan nipple-ku dan menciumi bibirku.

“Sshhh.. Aaahhhh..”

Kurasakan sesuatu yang hangat menerpa dinding rahimku. Cairan Yesung keluar, masuk ke dalam lubangku. “Enghh..” Yesung langsung ambruk menindih tubuhku. Juniornya masih betah berada di dalam, tanpa melepasnya ia memelukku. “Saranghaeyo, Kwon Yuri,” gumamnya kemudian mencium lembut bibirku.

“Nado..” Ujarku lirih. Yesung terkekeh geli sambil menyentil hidungku. “Cape yaaa? Sian..” Ledeknya.

Aku menjulurkan lidah. “Abisnya Oppa cepet banget mainnya,”

Yesung membulatkan matanya. “Napa? Emangnya mau lagi? Hm?”

Aku menggeleng sambil tertawa geli. “Gak ah. Capek,” kudorong tubuhnya itu ke samping hingga juniornya terlepas dari lubangku. Kemudian kutarik selimut menutupi tubuhku.

“Chagiii..” Yesung menyibak selimutnya. “Aku juga mau merasakan kehangatannya lagi,” ucapnya sok puitis.

“Lagi?” Tanyaku heran.

“Ya!” Tanpa sempat aku menjawab ia langsung menindihku lagi di dalam selimut, kemudian menciumku ganas.

“Ah.. Ahh.. Ahh.. Oppaaa..”
_____________________________________

-Author POV-

“EOMMAAAAAAAAAA..” Jiwoon yang baru saja pulang dari sekolah langsung menjerit2 memanggil2 Yuri. Yuri yang masih bersantai duduk di sofa menoleh ke arah namja yang telah masuk sekolah dasar itu. “Wae, sayang? Hm?” Tanya Yuri sambil mengelus lembut kepala Jiwoon.

“Ribut mulu. Ada apa sih?” Tanya Yesung sewot yang ada di sebelah Yuri.

Jiwoon manyun, kemudian bergelayut manja pada lengan Yuri. “Aku mau punya dongsaeng yeoja, eommaa.. Boleh ya? Yayayayaya?” Rengeknya.

“MWO?!”

-THE END-

FFnya selesai. Fuh-_-akhirnya selesai juga. Di FF Jealous! yg sebelumnya, ada yg minta sequelnya. Yauda ane bikinin aja .___. Abis ini, ane mau bikin FF22 requestan dari twttr. Otre? ^o^

Kansahamnidaa~ :D

7 thoughts on “[YesYul] Jealous..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s