[YesYul] Baby, I’m Jealous!

Sumber: http://koreannc.wordpress.com/2012/04/22/baby-im-jealous/

1. Author : Yesung’s Girl 

2. Judul : Baby, I’m Jealous! 

3. Kategori: NC 21, Kekerasan, Yadong, Oneshoot

4. Cast:

– Kwon Yuri / Yuri ‘SNSD’

– Kim Jongwoon / Yesung ‘SJ’

– Park Sunyoung / Luna ‘f(x)’

– Dong Youngbae / Taeyang ‘Big Bang’

Annyeong ^o^
Ini trilogi (?) dari FF “Jealous!” dan “Jealous..” :D hahaha. Maaf kalo triloginya ini jarak dipostnya terlalu jauh sama dua FF sblmnya –v *bow~
Yang nggak begitu suka sama SuGen pairing, langsung comment aja ya di sini :) kapan-kapan aku bawain FF dari pairing bb&gb lainnya. Sebetulnya kalau dipikir-pikir sekarang mah aku gak suka-suka banget sama SuGen pairing ._. #menjilatludahsendiri
Okay, happy reading! ^^ keep support Yesung’s Girl.

—————————————————————————————–

-Kim Jongwoon’s POV-“YANG JELAS AKU TIDAK SUKA KALO OPPA BERHUBUNGAN DENGAN CEWEK ITU! TITIIIIIIIIIKKKKK!!!!!!!!!”

Aku meringis sambil menutupi kedua telingaku yang baru saja menerima getaran jeritan dahsyat yang mungkin bisa meledakkan telingaku kalau aku tidak melindunginya. “Aduh, chagii.. Kau ini kenapa sih.. Cewek itu kan cuma sekretaris baruku di kantor, sayang..”

Gadis di depanku manyun. Rambut panjangnya yang kusut, mini summer dress-nya yang acak-acakkan, ditambah bibir manyunnya itu membuat gadis ini terlihat seperti mons……..ter.

“AKU GAMAU TAUUUUU!!!!” Jeritnya lagi. “Cewek itu seksi dan suka banget pakai rok pendek. Menjijikkan. Cowok mana yang nggak suka cewek pakai rok pendek?! Ha?! Kau itu cowok bukan sih, Oppa?!”

Aku meringis lagi. Gadis ini seakan ingin menyatakan kalau aku bukan cowok dan mungkin ia ingin membenarkan bahwa aku adalah cowok produk gagal.

“Aku tidak mau tahu!! Pokoknya pecat sekretaris genitmu itu sekarang juga. Kalau tidak, kau tidak boleh tidur di kamar lagi!” Putusnya kemudian mendorongku keluar kamar dan membanting pintu kamar keras-keras.

“Aissshh..” Keluhku sambil menggaruk-garuk kepalaku. Hufth..

Masih ada yang mengingat diriku? Huh? Yeaaah! Aku Kim Jongwoon, alias EnCung Lakii’a YuRi PoLePeL anD EpEL. Ohaha, salah. Kalau yang itu ID facebook-ku. Maksudku.. Yeaaah! Aku Kim Jongwoon, alias Yesung. Selama 5 tahun menjalin hubungan rumah tangga dengan Kwon Yuri, terciptalah dua manusia-manusia yang masih unyu-unyu bernama Jiwoon dan Yura. Kalau Jiwoon, mungkin sudah kalian kenal duluan. Kalau Yura? Ah.. Kim Yura, gadis lucu berusia 2 tahun yang dilahirkan oleh Yuri 2 tahun yang lalu.

Sebetulnya.. Selama 5 tahun ini, adaaaa saja perkara di rumah ini. Masalah Jiwoon yang masih gatau caranya nyalain TV di ruang tengah lah, Yura yang sukanya menarik-narik tisu dari tempatnya dan membuangnya ke segala tempat sampai aku menjadi korban terpleset karena tisu itu, lah.. Huh. Dasar anak-anak.

Mungkin perkara-perkara itu tidak begitu se-galau perkara ini.

Sejak 2 minggu yang lalu, sekretarisku yang lama mengundurkan diri dari pekerjaannya karena masalah keluarganya. Dan beberapa hari kemudian, atasanku membawakan seorang gadis yang katanya akan menggantikan sekretaris lamaku.

Gadis itu bernama Luna. Rambutnya pirang sebahu, kulitnya putih, dan ia selalu memakai rok di atas lutut. Awalnya aku begitu yakin bahwa aku tidak akan bisa menemukan gadis lain yang lebih seksi dari Yuri, tapi begitu bertemu Luna.. Aisssshhh. Aku rasa keyakinanku itu sedikit runtuh.

Bukan maksudku membanding-bandingkan Yuri dengan Luna, tapi.. Apa ya? Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari Luna. Ia sangat ramah dan terampil. Semenjak ia ditunjuk menjadi sekretarisku, pagi hari menjadi lebih ‘sesuatu’. Secangkir teh lemon cola selalu tersedia di meja kerjaku, semua berkas yang kuserahkan padanya sudah terselesaikan dengan rapi bahkan sudah terselip di map pink yang ia letakkan di atas meja kerjaku. Ia benar-benar sekretaris idaman.

Dan.. Akhirnya, bencana itu datang.

Mungkin karena sudah menganggap Luna sebagai sekretaris yang baik, aku mulai mengakrabkan diri dengannya. Setiap jam istirahat makan siang aku selalu mengajaknya makan siang bersama, bahkan tak jarang aku membelikannya makanan kecil. Sampai akhirnya, Yuri yang datang ke kantorku bermaksud mengantarkan makan siang untukku memergokiku sedang ngobrol ‘mesra’ dengan Luna di cafe sebelah kantor.

Dan itu semua berakhir dengan jejeritan di bagian atas barusan. Sekian.

Hhh.. Aku menghela nafas sambil menyandarkan punggungku di sofa besar ruang tengah. Baru kali ini Yuri semurka ini. Padahal ia terakhir kali mencemburuiku saat aku menciumi sebuah brosur produk minyak wangi yang ada Moon Geun Young-nya sebagai model iklan produk itu. Itupun terselesaikan setelah aku mati-matian menangis bombay di depan pintu kamar tidur karena dia terus-terusan mendiamkanku.

Yura dan Jiwoon yang tengah mengerjakan pekerjaan rumah mereka sambil duduk lesehan di meja bundar ruang tengah menatapku dengan tatapan lucu. Tak lama, Jiwoon langsung berbisik-bisik dengan Yura.

“Yura, Yura, sini deh,”

“Kenapa, Oppa?” Yura mendekatkan tubuhnya ke Jiwoon.

“Appa lagi galauuuu..”

“Hihihi.. Iyaaa.. Eh.. Galau itu apa ya, Oppa?”

“Ahh.. Bodoh sekali kau ini! Galau itu.. Ya appa! Tuh, pokoknya kalo appa mukanya kayak gitu, berarti dia lagi galauuu..”

“Oh ya? Hihihihi.. Appa galauuu..”

“Hahaha.. Appa galauu..”

“Appa galauuu..”

“Appa gaㅡ”

“Tau apa kalian tentang galau?!” Ucapku murka sambil melirik mereka penuh dendam. Sesuatu banget, dua anak kecil dengan umur di bawah 4 tahun ini sudah ngomong galau-galau-an.

Yura dan Jiwoon tertawa ngakak. “HAHAHAHAHA!!! Appa galauuuu..” Ucap mereka kompak meledekku.

Aku merutuk dalam hati. Kenapa anak kecil seperti mereka sudah memahami kata yang tidak seharusnya mereka pahami..? -_-
_________________________________________

-Kwon Yuri’s POV-

Aku membuka kedua mataku dan menguap. “Hoaaahhmm..” Kududukkan tubuhku sambil menyandarkan punggungku ke sandaran ranjang. Tanganku bergerak ke nakas yang ada di samping kanan ranjang, meraih sebuah cermin, kemudian mengarahkannya ke wajahku. Mataku sembap dan rambutku kusut. Hasil menangis heboh semalam.

Ini semua gara-gara Yesuuuuuung! Yesung memang menyebalkan, dumelku dalam hati. Cowok mata keranjang. Tempo hari aku memergokinya sedang berduaan dengan sekretaris barunya yang genit itu. Mereka duduk berdampingan di cafe yang sepi. Sialan.. Mana duduknya deket banget lagi. Kayak udah mau ijab kabul aja.

Aku melirik jam dinding berwarna soft pink yang tergantung di dinding kamar. Sudah pukul setengah tujuh pagi. Dan hari ini hari Minggu. Yura dan Jiwoon pasti libur sekolah, jadi aku segera bangkit dari ranjang dan bersiap ke dapur membuatkan sarapan pagi untuk mereka.

Aku menuruni tangga agar bisa sampai ke dapur dan ruang makan. Dari tangga, aku dapat melihat Yesung yang sedang berselimut dan tidur telentang di karpet ruang tengah. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya. Emang enak diusir dari kamar?

“Hm.. Mungkin Jiwoon dan Yura mau makan yang manis-manis pagi ini,” gumamku sambil menyiapkan bahan untuk membuat sandwich stroberi. Sederhana sih, hanya potongan buah stroberi yang ditaburkan di atas roti tawar yang sudah dipanggang, dan nantinya akan dimakan beserta siraman saus cokelat.

Slepp.. Saat sedang mengiris stroberi tiba-tiba ada seseorang yang memeluk pinggangku dari belakang. Ah.. Pasti Jiwoon yang merengek kelaparan. “Jiwoon.. Kau sudah lapar ya saㅡ” ucapanku terputus saat melihat siapa yang ada di belakangku. Yesung. “ㅡyang.”

Yesung nyengir manja dengan tangannya yang tetap memeluk pinggangku. “Iya, sayanggg.. Aku lapaaaar..” Ucapnya manja.

Aku membalikkan badanku, kembali mengiris-iris stroberi yang belum sempat teriris. “Buat saja sarapan sendiri.” Gumamku cuek.

Yesung memelukku semakin erat. “Uuu.. Ayang jahat ah sama aku,” dumelnya lebay sambil memonyong-monyongkan bibirnya dan menyipitkan mata sipitnya.

Aku cuma bisa tertawa geli dalam hati. Kutahan tawaku itu demi ego-ku di depannya. “Apaan sih? Lebay,”

Yesung melepaskan pelukannya dari pinggangku, kemudian beranjak ke sisi kananku dan memeluk manja lenganku. “Chagi masih marah ya sama aku?”

Aku meraih sepotong stroberi yang barusan kupotong dan melahapnya. “Mmm. Kalau iya kenapa?”

Yesung manyun. “Ko gitu sih?”

Aku diam saja. Kuraih lagi beberapa buah stroberi dan kembali mengirisnya.

Yesung menahan tanganku, kemudian menggenggamnya erat. “Chagi.. Kau tahu? Pemilik tangan terindah yang sedang kugenggam ini.. Ya, kau, chagi. Kau. Kau tahu? Aku hanya mencintai pemilik tangan yang sedang kugenggam tangannya ini. Hanya kau, chagi.. Hanya kau..” Tatapan matanya berubah menjadi hangat dan serius.

Aku memutar bola mataku malas. “Apakah kau juga berkata seperti itu saat kau sedang menggenggam tangan Luna, huh?”

Yesung menghela nafas. “Chagiii..” Rengeknya. Ia meraih pinggangku lagi, memelukku dan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Kemudian mengecup bibirku mesra. “Apakah kau pernah melihat seseorang yang aneh sepertiku, mendapatkan istri secantik dirimu, lalu melepas istrinya itu hanya demi seorang sekretaris yang baru dikenalnya beberapa minggu?”

“Chagi..” Yesung menghembuskan nafasnya di depan telingaku membuatku sedikit geli. “Percayailah aku. Kumohon.”

Aku menunduk, kemudian kuarahkan kedua tanganku mendorong tubuhnya pelan. “Sudahlah Oppa. Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu,” putusku kemudian segera mengangkat sebuah piring dengan beberapa sandwich stroberi yang tersusun di atasnya.

“Chagi? Chagi!” Seru Yesung dari belakangku. “Ash..”
_________________________________________

“Hhhh..” Aku menghela nafas. Kulemparkan pandanganku sejauh mata memandang hamparan pasir putih dan buih-buih ombak. Kuraih gelas jus jeruk-ku dan meneguknya melalui sedotan oranye transparan.

Sore ini aku sengaja ‘kabur’ dari rumah. Menikmati waktu untuk menyendiri di sebuah cafe di pinggir pantai. Ditemani segelas jus jeruk dan sepiring chocolate croissant, penat di kepalaku lepas sebagian. Setidaknya, aku mulai merasa lebih baik.

Aku mengaduk-aduk jus jeruk-ku dengan sedotan. Kemudian kupejamkan mataku menikmati angin sore menerpa rambut panjangku.

“Yuri-ya?”

Aku menolehkan kepalaku mendengar suara yang sangat familiar di telingaku. Taeyang..?

“Taeyang? Sedang apa kau disini?”

Taeyang tersenyum, kemudian duduk di sebuah kursi pantai di sebelahku. “Menikmati pantai di senja hari. Dan tak kusangka, aku menemukan bidadari di pinggir pantai,” ucapnya kemudian mengedipkan sebelah matanya.

Aku tersenyum malu. “Ah.. Apa maksudmu? Apa tante-tante yang sudah punya dua anak sepertiku ini masih pantas disebut bidadari?”

Taeyang membulatkan matanya. “Mwo? Dua anak? Aku baru tahu kau sudah punya dua anak. Hhh, Yesung hyung sepertinya sangat bersemangat sekali ya sampai-sampai kalian punya dua anak,” ucapnya diakhiri dengan cengiran mesum.

Aku tersenyum tipis. “Hihihi, begitulah.”

“Ngomong-ngomong kemana suamimu itu? Kenapa kau cuma sendirian di sini?” Tanyanya.

Aku terdiam. “Ah.. Aku.. Sedang bertengkar dengannya.” Jawabku pendek.

“Mwo? Kenapa? Apa dia membuatmu marah? Aish, kurang ajar. Tega sekali dia menyakiti wanita secantik dirimu yang bahkan sudah menjadi istrinya.”

Aku tertawa kecil. “Ah, sudahlah. Aku sedang tidak ingin membicarakannya..”

Taeyang menatapku. Kemudian tersenyum. “Ah, maafkan aku sudah mengingatkanmu padanya.”

“Tidak apa-apa.”

Beberapa menit sedikit terisi keheningan yang lumayan canggung.

“Yuri-ya..”

“Hm?” Tanggapku tanpa menoleh ke arahnya. Tanganku yang sedari tadi kuletakkan di meja bundar di tengah-tengah kursi kami tiba-tiba disentuh olehnya. Bahkan ia menggenggamnya.

“Eng.. Eh?” Gumamku canggung.

Taeyang memejamkan matanya sambil menengadahkan kepalanya ke atas, menikmati angin laut yang menerpa rambutnya. “Sejak pertama kali kita bertemu.. Bayanganmu benar-benar tidak bisa lepas dari ingatanku,”

Aku terdiam. Berusaha mencerna maksud perkataannya.

“Yuri-ya.. Kau tahu kan sudah berapa tahun aku menyukaimu? Menunggumu agar menyukaiku juga.. Menunggu.. Ah, menunggu entah sampai kapan.”

“Aku tahu aku ini playboy. Playboy yang suka sekali gonta-ganti pacar. Tapi.. Kau tahu, Yuri-ya? Sejak aku bertemu denganmu.. Aku seakan-akan pergi menanggalkan ke-playboy-anku itu. Bisa dibilang.. Kau membuat sifatku yang suka gonta-ganti pacar itu hilang, dan sejak saat itu aku hanya tertarik denganmu..”

“Dadaku sesak saat aku menerima undangan pernikahanmu dengan Yesung hyung beberapa tahun yang lalu. Sakit rasanya. Perempuan yang kucintai akan menikah dengan temanku sendiri.. Ah, tidak. Bahkan mantan sahabatku sendiri.” Gumam Taeyang sambil memejamkan kedua matanya. “Ya, mantan sahabatku. Kau tahu, kan. Aku dan Yesung hyung sudah tidak bersahabat lagi sejak kau hadir di antara kami berdua, dan entah kenapa sejak saat itu kami saling bersaing memperebutkanmu.”

“Apa.. Apa aku cukup kuat menerima kenyataan yang sangat amat pahit ini..?”

“Aku melihatmu seperti kau adalah satu-satunya perempuan di dunia ini..”

“Sejak saat itu, aku menjadi gila. Gila karena kehilangan cintamu, gila karena kehilangan perempuan yang sangat kucintai. Seakan aku tidak bisa melupakanmu.. Bukan, bukan seakan. Tapi karena aku benar-benar tidak bisa melupakanmu..”

“Yuri-ya.. Aku hanya ingin kau tahu. Aku.. Aku sangat mencintaimu..” Taeyang mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku, kemudian memelukku erat.

Tubuhku kaku. Aku tidak mengerti maksud Taeyang..

“Yuri-ya..” Taeyang memegangi kedua bahuku. Tatapannya sendu. Menatapku hingga membuatku merasa seperti diriku sedang sangat bersalah. “Aku.. Aku.. Aku ingin sekali bisa..”

BUGGGHHH!!!! Tiba-tiba saja Taeyang jatuh tersungkur. Aku tersentak.

“Apa yang kau lakukan kepada istriku?!” Tiba-tiba seorang namja membentak Taeyang. Ia mengangkat lengan Taeyang, kemudian menghajarnya lagi. BUGGGH!! Sesaat kemudian, aku tersadar. Yesung..?

“OPPA!! HENTIKAN!” Jeritku panik melihat Taeyang semakin babak belur dihajar Yesung yang seperti tengah kerasukan itu. Dengan sesegera mungkin aku menamparnya keras. PLAK!

Yesung memegangi pipinya sambil menatapku nanar. Tak percaya kalau aku berani menamparnya. “Cha.. Chagi.. Apa yang..”

Air mataku berderai. “Harusnya aku yang tanya begitu!!! Apa yang kau lakukan?!” Jeritku pilu. Aku menghampiri Taeyang dan berusaha menolongnya. Pipinya memar. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah.

Yesung terdiam berdiri memandangku dan Taeyang. “Cha.. Chagi.. Kau..”

Aku menoleh menatapnya garang. “Pergi kau!! Jangan ganggu aku!! Pergilah sana dengan sekretaris kesayanganmu itu!” Dapat kurasakan tatapan sinis dan heran dari beberapa pengunjung pantai lainnya yang memperhatikan kami bertiga, tapi aku tak peduli!!

“A.. Apa..? Jadi.. Ini masih karena sekretarisku itu?! Chagi, kau ini kenapa benar-benar kekanakan sekali, sih? Kau masih marah padaku dan malah membela laki-laki yang hampir memperkosamu dulu ini?!”

PLAK!! Aku bangkit dan menampar pipinya lagi. “Jaga omonganmu!!! Dia teman baikku! Kalau kau keberatan, lebih baik kau pulang sekarang!”

Yesung terdiam. Nafasnya terengah-engah. Matanya menatap tajam Taeyang yang masih merintih kesakitan karena hajarannya. Kemudian tanpa berkata-kata ia segera berbalik dan meninggalkanku dengan Taeyang.
_________________________________________

“Maafkan dia,” Aku menunduk. Karena gugup, tanganku meremas-remas rokku sendiri.

Taeyang yang masih merintih kesakitan sambil memegangi bibirnya dengan kapas cuma bisa menjawab pelan. “Engh.. Sampai.. Hhh.. Sampai kapanpun.. Sebetulnya.. Hhh.. Aku tidak bisa memaafkannya..” Gumamnya. “Kalau dia bukan suamimu.. Hhh.. Hhh.. Sudah kubunuh dia!! Hhh.. Hhh..”

Aku mengigiti bibirku. Aku semakin merasa bersalah padanya. “Dia memang benar-benar menyebalkan. Aku benci sifatnya itu. Dia bisa bebas sesuka hati mendekati gadis-gadis cantik yang ia suka, tapi ia sangat over protektif denganku. Sekalinya aku dekat denganmu atau dengan laki-laki lain.. Dia cemburu. Marah.”

Taeyang melemparkan kapas yang sudah penuh oleh darah di bibirnya ke hamparan pasir pantai yang ada di depannya. “Lalu? Kenapa kau tidak mencemburuinya seperti dia mencemburuimu?”

Aku menghela nafas kesal. “Aku mencemburuinya. Kemarin aku menunjukkan kecemburuanku itu. Aku mogok bicara dengannya dan mengucilkannya. Tapi ia sama sekali tak mengerti perasaanku. Bahkan dia juga masih sempat menyalah-nyalahkanku tadi saat dia.. Menghajarmu.”

Taeyang berdecak kesal. “Laki-laki aneh.”

Aku diam saja. Dalam hati aku mengiyakan perkataannya.

Tiba-tiba Taeyang meraih tanganku lagi dan menggenggamnya. Dengan bibir yang masih terluka itu, ia berusaha berbicara denganku. “Yuri-ya..”

“Hm?” Tanggapku singkat.

Tanpa seizinku Taeyang mengelus pipiku dengan tangannya yang lain. “Apa kau masih bisa terus bertahan dengan laki-laki seperti itu?”

Aku memandangi deburan ombak yang menerpa hamparan pasir di depanku. “Maksudmu apa?” Tanyaku (pura-pura) tak mengerti.

Taeyang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi pantai itu. “Hhh. Aku tidak tahu apa maksudku, yang jelas aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranku. Kau masih mau tinggal serumah dengan laki-laki seperti itu.”

Aku diam saja. “Apa maksudmu? Kau masih.. Cemburu dengan Yesung? Taeyang-ah.. Kukira kau temanku yang mau merestui dan menerima semua yang kujalani..”

Taeyang terdiam. “Tidak. Aku tidak cemburu. Aku.. Hanya sedikit tidak tahu, kenapa.. Kenapa.. Aish, sudahlah.”

Aku menoleh memandangnya lekat-lekat. “Taeyang..” Aku meraih tisu dari sekotak tisu yang ada di meja kemudian mengusap bibirnya yang mulai mengeluarkan darah lagi. “Aku bisa mengerti perasaanmu. Bagaimana sakitnya kau melihatku sudah menikah dengan orang lain. Aku tahu. Aku mengerti. Tapi.. Hei, wanita di dunia ini bukan cuma aku saja kan? Apa kau tidak ada niat lain untuk memandang wanita lain? Yang mungkin bisa lebih baik daripada aku? Kau itu.. Laki-laki yang tampan, Taeyang. Pasti banyak wanita yang tertarik padamu. Hanya saja kau lah yang terlalu menutup hatimu, sehingga kau tidak bisa melihat wanita yang lain.. Selain aku.”

Sekilas aku dapat melihat Taeyang menitikkan air matanya kemudian ia buru-buru mengusapnya. “Aku.. Aku sangat mencintaimu, Yuri-ya.. Aku tidak bisa hidup tanpamu..” Air matanya menjadi lebih deras. “Aku memang benar-benar laki-laki brengsek.. Tetap mendekati perempuan yang bahkan sudah menikah dengan laki-laki lain.. Aku rasa ibuku tidak pernah mendidikku seperti itu.. Hiks.. Engh.. Hikss..”

“Taeyang..” Aku semakin tidak tega melihatnya menangis seperti itu. Dan.. Seperti tak sadar, kuarahkan bibirku mencium pipinya pelan. Chu..

Taeyang terdiam. Tangisnya terhenti. Ia menoleh memandangku. “Yuri-ya..?” Gumamnya tak percaya.

Aku tersenyum. “Itu.. Ciuman kepercayaan diri! Aku yakin, setelah kucium pipimu tadi, wanita-wanita lain akan mengejar-ngejar dirimu, menyukaimu, bahkan memperebutkan dirimu! Hahaha..” Dengan secepat mungkin aku mengatur kata-kata karanganku agar ia bisa sedikit terhibur.

Tak butuh waktu lama sampai akhirnya senyum maskulin Taeyang itu terukir di bibirnya. Ia memelukku erat. Bukan pelukan mesra seakan pelukan yang diberikan seperti seorang laki-laki pada kekasihnya.. Tapi tight hug yang biasa diberikan seorang sahabat kepada sahabatnya. “Go.. Gomapta, Yuri-ya..”

Aku membalas pelukannya sambil menepuk-nepuk punggungnya. “Cheonma, Taeyang. Apapun yang terjadi padamu, katakanlah padaku. Kita bersahabat kan? Sampai kapanpun.. Sampai kapanpun.”

Taeyang semakin erat memelukku. “Ya.. Aku janji, Yuri-ya. Aku janji..”

Aku tersenyum senang.
_________________________________________

-Kim Jongwoon’s POV-

Secret.

Ya, secret. Itu sebuah tulisan yang tercetak di badan cangkir berisi teh lemon cola yang tersedia di meja kerjaku. Aku memandang kosong cangkir itu. Pikiranku melayang. Pandanganku kosong. Semalam Yuri tidak pulang ke rumah semenjak kejadian di pantai itu. Tidur dimana ia semalam? Apa jangan-jangan ia tidur seranjang dengan laki-laki brengsek itu tadi malam? Air mataku seketika mengalir membasahi pipiku. Hatiku seakan teriris membayangkan Yuri tidur seranjang dengan laki-laki brengsek itu.

“Yuri-ya..” Rintihku pelan. Kubenamkan kepalaku ke meja kerja. Setumpuk berkas-berkas perusahaan sama sekali tak kusentuh. Pikiranku kacau. Khawatir akan keadaan Yuri saat ini.

“Yesung-ssi..?” Tiba-tiba seorang yeoja membuka pintu ruanganku. Aku segera memutar kursi kerjaku, mengusap air mataku dengan lengan kemejaku dan membalik lagi kursiku. Luna..?

“Erh.. Luna? Ada.. Hhh, ada apa?” Tanyaku.

Luna tersenyum. Kemudian meletakkan sebuah map ungu di atas mejaku. “Ini daftar karyawan bagian eksekutif yang kau minta untuk aku ketik kemarin. Ini, sudah kucetak dan sudah ditandatangani kepala bagian.”

Aku memandang map itu. “Engh.. Baiklah. Gomawo, Luna.” Jawabku singkat.

Luna sedikit membungkuk kemudian menatap wajahku lekat-lekat. “Ah, maaf aku tidak sopan memandangmu seperti itu, Yesung-ssi. Ah.. Kalau aku boleh tahu, sepertinya kau sedang mempunyai masalah, ya? Matamu sembap. Seperti.. Habis menangis,”

Ya! Ya! Menyebalkan sekali yeoja ini. Tahu saja kalau aku habis menangis. Aku berusaha mengusap mataku lagi. “Ti.. Tidak. Aku tidak kenapa-napa, Luna. Ah.. Bisakah kau tinggalkan aku sendirian sekarang?”

Luna mengangkat bahunya. “Ah, ya sudah. Baguslah kalau begitu. Baik, Yesung-ssi. Aku permisi dulu,”

Begitu Luna menutup pintu, aku kembali menelungkupkan kepalaku di mejaku. Kemudian kembali menangis. “HUUUHUHUHUHUUUU..”
_________________________________________

“Yesung-ssi,”

“Yesung-ssi..”

“Yesung-ssi?”

“Yesung-ssi?!”

“YESUNG-SSI!” Jeritan terakhir Luna memecah lamunanku. Dengan tampang bloon aku memandangnya. “Eh.. A.. Apa?”

Luna menghela nafas. “Kau kenapa, Yesung-ssi? Sejak tadi kau terus-menerus melamun, bahkan jam makan siang seperti ini kau masih saja melamun. Maaf kalau bicaraku sedikit tidak sopan seakan-akan ingin mengguruimu, tapi aku tak mungkin diam saja melihat bos-ku melamun terus-terusan seperti ini.”

Aku terdiam. Ah, Luna. Gadis ini ternyata sangat memperhatikanku. “A.. Aku tidak apa-apa,” dustaku.

Luna menghela nafas. “Mau sampai kapan kau berbohong, Yesung-ssi? Aku jelas melihat dari kedua matamu kalau kau itu sedang memikirkan sesuatu yang sangat pelik. Sebetulnya ada apa?”

Aku diam saja. “Sudahlah, Luna. Aku.. Aku benar-benar tidak apa-apa. Sungguh,”

Luna memandangiku dengan tatapan Medusa-nya. “Aku tahu kau sedang membohongiku.”

Aku menghela nafas. “Kalau aku bilang tidak apa-apa, dan memang tidak ada apa-apa, lalu aku harus bagaimana?”

Luna memutarkan kedua bola matanya. “Yah, mana kutahu. Yang jelas aku tahu kau sedang ada masalah. Kau sedang bertengkar dengan istrimu, mungkin..?”

JEDERR. Bingo!

Aku diam saja sambil memanyun-manyunkan bibirku. “Emm, mungkin.”

Luna tersenyum puas. “Tebakanku benar. Tepat sasaran.” Gumamnya. “Jadi ini juga penyebab matamu yang sembap tadi?”

Aku meliriknya penuh dendam. Sialan.

“Memangnya kenapa sampai kau bisa bertengkar dengan istrimu itu, huh? Aku yakin pasti kau yang memancingnya sampai-sampai dia marah padamu.”

Aku memandangnya penuh ke-keder-an. “Hahaha. Sok tahu sekali kau menuduhku yang memulai.”

Luna meneguk ice lemon tea-nya. “Aku tidak sok tahu, Yesung-ssi. Perempuan itu mudah cemburu, apalagi kalau laki-lakinya suka sekali memandangi gadis lain, lalu membanding-bandingkannya dengan istrinya sendiri.”

Ting tong. Semua tebakannya benar! Huh.

Aku menggelepar (?) lemas. “Lalu aku harus bagaimanaaa..?”

Luna tersenyum tipis. “Ubah cara bicaramu yang konyol itu dan bersikaplah gentle di depannya. Dia pasti akan kembali terpikat padamu.”

Aku terdiam. Apa aku bisa..?
_________________________________________

“Appa pulang..” Ucapku lirih ketika memasukki rumah. Yura dan Jiwoon tengah asyik duduk di ruang tengah sambil menonton film kartun kesukaan mereka di televisi.

“Appa sudah pulaaaang!” Jerit Jiwoon dan Yura kesenangan kemudian mereka segera berlari-lari kecil menghampiriku dan memelukku.

Aku tersenyum kecil sambil mengacak-acak rambut mereka. Tingkah lucu dua anak kecil ini membuatku merasa sedikit lebih baik. “Bagaimana sekolahmu hari ini, Jiwoon?” Tanyaku sambil menggendong Yura dan menuntun Jiwoon menuju ruang tengah lagi.

“Menyenangkan, appa! Tadi, guruku mengajarkanku membuat pesawat-pesawatan yang saaa…ngat keren! Hihihi,” celotehnya dengan riang.

Aku tersenyum. “Wah, kelihatannya seru ya. Oh ya, eomma kalian mana?” Tanyaku sambil memandang sekeliling.

Yura dan Jiwoon sama-sama terdiam. Sampai akhirnya Jiwoon pun buka suara.

“Sejak pulang sekolah tadi, eomma diam terus di kamar, appa. Keluar cuma waktu jam makan siang tadi dan sebelum appa pulang tadi eomma keluar sebentar menyiapkan makan malam, lalu masuk ke kamar lagi tanpa ikut makan. Aku dan Yura ngga berani masuk kamar eomma, appa.. Kayanya eomma lagi gamau diganggu,” lapor Jiwoon. Yura di sebelahnya mengangguk-angguk lucu.

Aku terdiam. Ah.. Sepertinya Yuri masih ngambek. “Haah, ya sudah. Sekarang kalian makan malam duluan saja ya? Biar appa yang bujuk eomma supaya mau makan malam sama kita. Oke?” Aku mengacungkan ibujari-ku di hadapan mereka.

Yura dan Jiwoon mengangguk kompak. “Oke, appa!” Ucap mereka kemudian dengan riangnya mereka beranjak menuju ruang makan.

Aku menaiki tangga ke lantai dua, kemudian segera berjalan ke depan pintu kamarku dan Yuri.

“Yuri-ya..?” Ucapku pelan sambil membuka pintu yang tak terkunci. Gelap gulita. Tanganku meraba-raba tembok yang ada di sebelah pintu, kemudian menyalakan lampu. Sampai akhirnya Yuri tampak berbaring di ranjang dengan posisi membelakangiku. Aku segera naik ke atas ranjang, kemudian menepuk pelan lengannya. “Yuri-ya?”

“Nnngg.. Nngg..” Tiba-tiba terdengar suara aneh darinya. Aku terperanjat, kemudian menelentangkan tubuhnya. Yuri tampak menggigil kedinginan. Refleks aku meletakkan punggung tanganku di dahinya.

“Ya Tuhan! Panas sekali! JIWOON!!!! TELFONKAN DOKTER UNTUK CEPAT KESINI! SEKARAAAANG!!!!”
_________________________________________

“Istrimu cuma terkena demam. Bukan penyakit yang berat. Sepertinya dia terlalu depresi memikirkan sesuatu sampai lupa makan dan jarang tidur. Apa kalian sering bertengkar akhir-akhir ini?” Ucap seorang dokter muda bernama Park Hyorin yang memeriksa Yuri itu. Hyorin meletakkan stetoskopnya di tas dokternya kemudian membenarkan letak kompres di dahi Yuri.

“Hhh, sebetulnya dia yang mulai mengucilkanku, Dok. Sepertinya dia cemburu karena aku terlalu dekat dengan sekretaris baruku,” keluhku berujung curhat.

“Ah.. Kau ini. Perempuan itu memang mudah cemburu. Lebih baik kalau dia sudah sembuh nanti, kau berikan perhatian ekstra padanya. Perempuan itu suka sekali kalau diperhatikan,” wejang dokter itu. Lah, ini dokter kenapa malah jadi ngasih nasihat percintaan gini.

Aku mengangguk. “Iya, Dok. Aku janji,”

Hyorin segera membereskan tas dokternya. “Baiklah, aku rasa sudah selesai. Obatnya sudah kuletakkan di nakas, jangan lupa diminum teratur setelah makan.”

Aku mengangguk. “Iya, Dok.”

“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Annyeong,” pamitnya kemudian segera keluar kamar.
_________________________________________

“Appaaa.. Malam ini aku tidur di kamar appa dan eomma ya? Aku mau ikut menjaga eomma biar eomma cepat sembuh!” Rengek Jiwoon yang sudah beres-beres selimut dan bantalnya. Begitu pula Yura yang di sampingnya, ikut-ikut oppa-nya membawa selimut pink dan bantal pink-nya.

Aku mengangguk. “Baiklaaah.. Tapi kalian jangan berisik ya kalau sedang tidur, nanti eomma nggak bisa istirahat dan nggak sembuh-sembuh.”

“Iya, appa!! Kita gabakal ribut, kok.” Janji Yura sambil tersenyum lebar.

Aku mengangguk. “Iyaa.. Ya sudah, sana. Cepat tidur,”

Seakan dikomando, Yura dan Jiwoon segera menggelar selimut di atas karpet yang melapisi lantai kamarku dan Yuri, lalu mereka segera berbaring dan tidur lelap beberapa saat kemudian. Aku tersenyum memandang mereka yang sepertinya benar-benar menyayangi eomma-nya. Ah, Kwon Yuri.. Sepertinya kau benar-benar berhasil menjadi ibu yang baik untuk mereka.

Aku memandangi wajah Yuri yang sedang tertidur. Aku tersenyum-senyum sendiri memandang wajah cantiknya itu. Walaupun sedang tidur, kecantikkannya itu tetap saja terpancar. Kuelus pelan pipi mulusnya itu. Dan aku segera menarik kembali tanganku karena kaget setengah mati begitu kedua matanya terbuka. Ah, sepertinya ia terbangun karena elusanku di pipinya.

“O.. Ppa?” Gumam Yuri sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Aku tersenyum, kemudian mengelus pipinya lagi.

Ingat. Ingat kata-kata Luna. Harus gentle. Harus gentle. Gentle.. GENTLEEEEE.. ”Aku membangunkanmu? Maaf,” WAW! Aku bahkan tidak percaya bisa mengucapkan kata-kata selembut dan se-gentle itu.

Sekilas terukir senyum tipis di bibir seksinya. “Tidak.. Aku terbangun sendiri. Bukan salahmu, Oppa.” Jawabnya, kemudian ia bangkit dan berusaha mendudukkan tubuhnya di ranjang.

“Ah.. Jangan bangun dulu, sayang.” Cegahku sedikit berbisik, takut membangunkan Jiwoon dan Yura. “Kau masih demam. Istirahat dulu saja,”

Yuri menggeleng. “Tidak, Oppa.. Aku sudah tidak apa-apa,” ucapnya. Aku menghela nafas dan membiarkannya. Yuri kalau sudah bersikeras begitu mana bisa dilawan.

Sejenak keheningan mengisi di antara aku dan Yuri. Sama-sama canggung karena akhir-akhir ini kami jarang mengobrol, bahkan lebih tepatnya akhir-akhir ini kami kan saling cuek-mencuekkan.

“Oppa..” Tiba-tiba suara pelan Yuri memecah keheningan.

“Apa, chagi?” Tanggapku cepat.

Yuri terdiam sebentar, kemudian ia mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku kemudian segera memelukku erat. “Oppa.. Mianhae,” tes.. Tes.. Dapat kurasakan butiran air matanya menetes membasahi kemeja yang kukenakan. Kedua tanganku menyambut dan membalas pelukannya. Kuelus lembut punggungnya. Tetep gentle.. Tetep gentle.. HARUS GENTLE! ”Kau.. Minta maaf untuk apa..?”

“Chagi.. Harusnya aku yang minta maaf,” gumamku membenarkan kata-katanya. “Aku sudah membuatmu salah paham, membuatmu menyangsikan isi hatiku, membuatmu tidak percaya padaku.. Tapi.. Percayalah chagi, hanya ada kau di hatiku. Kau. Hanya Kwon Yuri. Bukan Luna, bukan mbak-mbak kantin di kantorku, atau wanita lainnya. Sungguh. Aku.. Aku hanya mencintaimu, Kwon Yuri.. Hanya mencintaimu..”

Yuri semakin membenamkan kepalanya di dadaku. “Oppa.. Aku.. Aku yang salah..” Isaknya. “Hiks.. Aku memang benar-benar keterlaluan.. Terlalu mencemburuimu..”

Aku membelai rambut panjangnya. “Sssh, sudahlah sayang. Jangan menangis,” aku mengarahkan wajahnya tepat di depan wajahku, kemudian mencium lembut bibirnya berusaha meredakan tangisnya. “Mungkin kita sama-sama salah. Lalu, bagaimana kalau sekarang kita sama-sama mengakui kesalahan dan berjanji tidak akan cemburu berlebihan atau membuat satu sama lain saling cemburu, setuju?” Aku tersenyum memandang kedua bola matanya.

Yuri mengusap air matanya kemudian tersenyum. Memancarkan paras wajahnya yang cantik jelita itu. “Iya, Oppa.. Maafkan aku, ya?”

“Maafkan aku juga, sayang,” aku mengecup dahinya.

Yuri memegangi kedua pipiku, kemudian mendekatkan wajahku dengan wajahnya lalu bibir kami bersentuhan. Lumayan lama ia menciumku, sampai akhirnya aku merasa tonjolan di balik celanaku mulai menegang. Ah, sepertinya benar apa kata Leeteuk hyung. Ciuman bisa menimbulkan sensasi seksual kuat yang mengakibatkan dorongan seksual yang tak bisa terkendali. Buktinya juniorku mulai menjerit-jerit minta dikeluarkan..

Seakan membaca isi pikiranku, Yuri melepas ciumannya dan memandang juniorku yang menegang itu dengan pandangan polos. Refleks aku menutupi juniorku ketika ia memandangnya lekat-lekat.

“Hihihi.. Oppa, sepertinya kau mudah terangsang ya?” Ledeknya sambil tertawa geli. Yuri sedikit merunduk, kemudian mengelus pelan tonjolan di balik celanaku itu. Aku mendesah kecil. “Ah.. Chagi.. Aaah.. Jangan lakukan..”

“Jangan lakukan apa? Kuelus sebentar saja milikmu ini sudah menjadi sedikit lebih besar dari sebelumnya.. Hihihi, aku keluarkan ya?”

Aku menahan tangan Yuri. “Ah.. Chagi, jangan,” cegahku. Kuletakkan telunjukku di bibirnya, kemudian berbisik pelan. “Jangan sekarang. Kau ini sedang demam tahu. Harusnya kau istirahat sampai sembuh,” tolakku. Padahal dalam hati sebetulnya aku sudah benar-benar horny.

Yuri sama sekali tidak memperdulikan ucapanku, bahkan ia mulai membuka resleting celanaku dan mengelus juniorku dari luar underwearku. “Cha… Gihh… Aaah.. Ja.. Nganhh.. Dhii siniiihh..” Desahku sambil bersusah payah menahannya.

Yuri menegakkan badannya menghadapku, kemudian menjulurkan lidahnya. “Ah, hihihi. Iya ya, ada anak-anak. Lalu kita ke mana, Oppa?” Bisiknya sambil menggigit bibirnya dengan tatapan seduktif. Uhh.. Dia menggoda sekali!!

Tanpa pikir panjang aku segera menggendong tubuhnya keluar kamar kemudian dengan satu tangan aku menutup pintu kamar itu, lalu langsung beranjak menuju sebuah kamar tidur kecil yang biasa digunakan untuk tamu yang datang menginap di rumah.

Kurebahkan Yuri di atas ranjang yang sederhana itu, kemudian mulai menindih dan mencium ganas bibirnya. Yuri mengalungkan tangannya di leherku, sambil sesekali tangannya mendorong kepalaku agar semakin menciumnya. Kugigit pelan bibir bawahnya, meminta izinnya untuk membuka mulutnya. Yuri memberi sedikit celah di bibirnya, kemudian lidahku masuk mengusap satu persatu gigi-gigi putihnya. “Emphh..” Yuri mendesah tertahan, membuatku semakin gemas. Kuremas lembut kedua payudaranya yang masih tertutup pakaiannya itu, hingga ia sedikit menjerit kaget dalam ciuman kami. Perlahan kulepas ciumanku itu dan menarik nafas dalam-dalam.
_________________________________________

-Yuri’s POV-

Aku menjilat bibir atasku dengan gaya se-menggoda mungkin. Engh.. Rasa pusing dan mual karena demam tadi sedikit berkurang rasanya. Baru awal permainan saja aku sudah mulai dibanjiri keringat.

Yesung menyeringai. “Kau menggodaku, sayang? Hm?” Ia mulai mendekatkan wajahnya lagi kemudian menekan bibirnya lembut di bibirku. Hanya sekilas. Cuma ciuman menempel saja.

Kedua tangannya mulai melepas satu persatu kancing kemeja tidurku. Kedua matanya langsung melotot takjub memandang langsung dadaku karena saat itu aku sedang tidak memakai bra-ku. Tanpa melepas kemeja ituㅡhanya melepas kancingnya sajaㅡYesung mulai mendekatkan wajahnya dan ia memasukkan payudara kananku ke mulutnya, lalu menghisapnya dengan cukup keras. Sementara itu tangan kanannya meremas-remas payudara kirikuㅡdan itu semua langsung membuatku mendesah hebat!

“Aaaahhhh… Aaaahhh.. Ssssh… Mmmhh.. Emph… Oppaaa.. Aaaahhh..”

Selagi ia menghisap dan mengulum payudaraku, tangan kanannya yang semula meremas dadaku itu mulai ia arahkan ke celana tidurku, menariknya hingga benar-benar lepas dari tubuhku. Yesung melepas hisapannya dari dadaku, kemudian ia sedikit turun dari tubuhku *maksudnya?-_-* kemudian beralih ke vaginaku.

“Hufth~~” Yesung meniupkan nafasnya di bawah sana sehingga menerpa paha bagian dalamku. Aku mendesah kecil, kemudian desahanku itu kembali menjadi keras saat ia menarik celana dalamku dan membuangnya entah ke mana. Dijilatnya klitorisku yang sudah tertampang jelas itu, kemudian kedua tangannya memeluk pinggangku agar aku tidak banyak bergerak saat ia menjilatinya. Tapi aku tidak bisa menahan kenikmatan dan rasa geli itu, tubuhku bergetar-getar. Oh.. Nikmat sekali rasanya. “Aaaahhhh.. Opppaaa…” Jeritku kenikmatan.

“Sabar chagi.. Errhh..” Suara Yesung tidak begitu jelas karena ia berkata-kata sambil menjulurkan lidahnya menjilati klitorisku itu.

“Oppaa~hhh..” Pantatku sedikit terangkat, membuatku merasakan rasa nikmat yang lebih. Yesung menahan pinggangku, kemudian kembali menghisap-hisap kewanitaanku itu sambil mengusap-usap klitorisku dengan ibu jarinya.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhh..” Aku menjerit, kemudian refleks terkulai lemas saat cairan hangat keluar dari lubang vaginaku. Seperti biasa, dengan semangat Yesung menjilatinya dan menghabiskan cairan itu, menyedotnya dan menjilati vaginaku yang masih lengket karena cairanku baru saja keluar itu, kemudian menghisapnya dengan cukup keras.

“Aaa.. Aaa.. Aaaaaahhhh..”

Yesung bangkit, kemudian ia kembali menindihku dan mencium lembut bibirku lagi. Dapat kurasakan sedikit cairanku yang masih tersisa di bibirnya, tanpa basa-basi kujilat bibirnya ikut merasakan cairanku itu. “Hmphh~” kupejamkan mataku merasakan ciumannya, dan dengan sedikit nakal kuarahkan kedua tanganku ke bagian bawah tubuhnya lalu meremas pelan juniornya yang sontak membuatnya mendesah kecil. “Engh..”

Yesung melepas ciumannya, kemudian memandangku pura-pura marah. “Chagi nakaaaaaaaal..” Rengeknya manja, kemudian kedua tangannya meremas-remas payudaraku lagi. Aku tertawa sembari sedikit mendesah karenanya.

Yesung bangkit, kemudian melepas kemejanya hingga dada bidangnya itu terekspos jelas. Aku memandang ‘mupeng’ dada bidangnya itu. “Kau baru fitness, Oppa? Dadamu jadi sangat…hm, apa ya? Berbeda.”

Yesung manyun. “Jadi biasanya dadaku nggak kayak gini yah?”

Aku tertawa geli.

Yesung mulai melepas satu persatu pakaiannya dengan gaya menggoda. Ia menggigit bibirnya seduktif sambil melepas celana kerjanya, lalu ia langsung menindihku tanpa melepas underwearnya. Digesek-gesekkannya juniornya yang masih terbalut underwearnya itu ke liang vaginaku, membuatku mendesah tersiksa. “Aaaahh.. Oppaaa.. Masukkan… Enggghhhhh..” Rintihku. “Akhhuu.. Tiddhhhaaakkkhh.. Tahaaannnhhh..” Gumamku tidak jelas saat ia semakin menggodakuㅡmeremas-remas pantatku dan menjilati nippleku dengan ujung lidahnya lalu menggigit-gigitinya.

Yesung tertawa puas. “Ahahaha! Aku suka melihat wajah tersiksamu, chagiㅡ” BUK! Langsung saja kutinju juniornya itu dan ia langsung menjerit seperti seorang yeoja. “AWHHH!!!”

“Masukkan.” Perintahku sambil kembali memejamkan mataku.

Yesung manyun, kemudian tanpa ba-bi-bu lagi ia melepas underwearnya dan mulai memposisikan juniornya di depan vaginaku, lalu mulai menggesek twinballsnya di liang vaginaku, membuatku mendesah nikmat. “Emh.. Oppa.. Masukkan..” Pintaku lemas.

Yesung mencium bibirku sekilas, kemudian menurunkan ciumannya membuat beberapa kissmark di payudara, bahu dan leherku lalu perlahan-lahan ia mulai memasukkan juniornya di vaginaku.

“Ugh..” Rintihku pelan saat kurasakan juniornya masuk utuh di vaginaku. Yesung memandangku dengan tatapan hangatnya, lalu aku mengangguk dan ia langsung menggerakkan juniornya sambil meremas payudaraku dan menciumku lagi.

“Ah.. Uh.. Oppaa~hhh.. Hhhh.. Mmmmmmffffhhhhh.. Aaaaaahhhh.. Ssssh.. Ohhh.. Aaaahhh..” Aku mendekap tubuhnya, memejamkan mataku merasakan kenikmatan yang tiada batasnya ini. Nippleku mengencang, membuat Yesung kembali bernafsu mencium, menjilat, dan mengulumnya lagi.

“Chagi.. Aaaaah.. Uuuuhhh.. Oooohh.. Aaaaaahhhh..” Yesung klimaks duluan, ia menyemburkan sperma yang begitu banyak ke dinding rahimku, sisanya mengalir dari selangkanganku. Beberapa saat kemudian aku mengeluarkan cairanku, menyatu dengan spermanya. Aku mendesah kecil merasakan hangat di bawah sana.

Yesung menciumku sekilas, kemudian dengan hati-hati ia mencabut juniornya dari liangku lalu menyodorkannya kepadaku. “Treat him, darling.” Bisiknya sambil mengedipkan matanya genit.

Aku tersenyum, kemudian meraih juniornya dan meremasnya pelan membuatnya merem-melek. Kukecup lembut twinballsnya, lalu menjilat dan mengulum batang juniornya. Kumaju-mundurkan juniornya di dalam mulutku, lalu kugigit kecil hingga Yesung menjerit. “Ah!”

“Chagi, jangan digigit,” rengeknya manja. Aku tersenyum kecil. “Nanti juniolnya kempes..” Gumamnya membuatku tertawa geli.

“Lebay,” tanggapku kemudian kembali menekuni ‘barang’-nya itu. Kumasukkan lagi juniornya ke dalam mulutku, kuhisap keras-keras juniornya itu sekeras saat ia menghisapi klitorisku tadi, lalu kurasakan ujung juniornya mengeluarkan setetes demi setetes cairannya di mulutku, lalu akhirnya tumpah ruah di mulutku. Yesung mendesah lega, kemudian ia mengelus lembut kepalaku. “Kau hebat, sayang.”

Kutelan setengah cairannya, sisanya kubiarkan di mulutku kemudian kutumpahkan cairannya di batang juniornya. Kujilati juniornya yang berlumur cairannya itu. Yesung mendesah, merasakan kenikmatan yang kuberikan.

“Hhh, cukup sayang,” ucapnya, kemudian ia berlutut dan mencium bibirku. Cukup lama, sampai akhirnya dilepasnya ciumannya dan ia memandangku penuh kasih. “Lagi?”

Aku menjilat bibir atasku dengan seduktif sambil berkedip genit kepadanya, tanda menginginkannya lagi.

“Berdirilah, sayang.” Ucapnya kemudian segera memberdirikan tubuhku di samping ranjang, kemudian ia mengibaskan rambut panjangku ke depan kemudian mencium lembut punggungku dan mengusapnya sampai membuatku kegelian dan mengerang nikmat.

Perlahan tapi pasti, Yesung mulai memasukkan juniornya perlahan-lahan lewat lubang belakangku. Sakit. Tentu saja. Aku merintih, kemudian mencengkram erat kedua lengannya yang melingkar di pinggangku.

“Hhh, sempit.” Keluhnya. Tapi ia terus mencoba memasukkannya lewat lubang belakangku, sampai akhirnya dengan sekali hentakan keras juniornya masuk utuh di lubang belakangku.

Yesung meremas lembut kedua payudaraku dari belakang, kemudian memutarkan kepalaku menghadap ke belakang menyambut ciumannya sambil kembali menggerakkan juniornya.

“ARGGHHHHH..” Aku hanya bisa menjerit merasakan sakit yang luar biasa saat ia menggerakkan juniornya di lubang belakangku. Ini kali pertamanya ia ‘bermain’ di lubang belakangku, dan rasanya sakit sekali.

Yesung mencium leherku dan meremas payudaraku lagi. “Mianhae, chagiya. Aku akan menjanjikan kenikmatan setelah ini, arra?” Ucapnya lembut, kemudian perlahan kembali menggerakkan juniornya.

“Ahh.. Ahhh..” Aku tidak menjawab, aku hanya bisa mengerang merasakan sakit dan sedikit kenikmatan menjadi satu. Belum lagi sensasi geli saat Yesung menjilat dan menghisap leherku dari belakang.

“Mmh.. Ah.. Mmphh.. Ssssh.. Hhhh.. Aaaahhh..”

“Nikmat, kan, sayang..?” Bisik Yesung mesra dari belakangku. “Apa kubilang.”

Aku hanya bisa mengangguk sambil memejamkan mataku, merasakan nikmat yang luar biasa di daerah kewanitaanku itu. Yesung semakin bersemangat menggerakkan juniornya di lubang belakangku sambil meremas kuat kedua payudaraku dari belakang.

“Aaaaaaarrrrrrrrrrggggghhhhhhhh…” Desahku panjang saat cairanku keluar membasahi batang junior Yesung dan juniornya itu ikut menyemburkan sperma yang sangat banyak ke dalam dinding rahimku.

“Ahh~”

“Engh..” Aku tergolek lemas, Yesung menangkapku dari belakang kemudian memeluk tubuhku lalu mencium lembut pipiku dari belakang. “Lagi?” Tawarnya sambil tertawa jahil.

Aku melotot. “Emh~ aku lelah,” tolakku sambil memejamkan kedua mataku di pelukannya.

“Aku tidak sama sekali.” Yesung mencium leherku dan menghisapnya perlahan.

Aku diam saja sambil tetap memejamkan mataku, merasakan hangat pelukannya dari belakang tubuhku.

“Ayolah, sekali lagi. Menimbun gairahku malam ini,” desahnya kemudian mulai memberdirikan tubuhku lagi, lalu mulai menggerakkan juniornya yang masih tertancap di lubang belakangku.

“Aaah.. Ahhh.. Sssshhh.. Mmmhhhhh.. Ahhhh… Opp..aaaa~hhhh..” Aku mendesah tidak tahan, rasa lelahku terkalahkan oleh rasa nikmat yang diberikan oleh Yesung. Kedua tangannya tidak lagi meremas payudaraku, tetapi berganti mengelus lembut perutku sampai membuatku geli tidak karuan. “Ahhh.. Uhhhhh.. Errrrrhhhhh.. Aaaa~hhh.. Aku~hhh.. Tidakhhh.. Tahannnn~~hhhh..”

“Ahhh~ chagi.. I’mㅡOhhh~” desahnya bertepatan dengan cairan hangat yang menyembur menyentuh dinding rahimku, diikuti dengan orgasmeku yang ketiga kalinya ini.

“Eng.. Hhhh..” Aku mendesah kelelahan, lalu langsung tepar di pelukannya.

“Saranghaeyo, Kwon Yuri. Terimakasih untuk malam ini.” Ucapnya tulus sambil memandangku dengan mesra.

Aku tersenyum kemudian mencium pipinya. “Cheonmaneyo, Oppa. Nado saranghae,”

Yesung mengecup lembut dahiku, kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Digendongnya tubuhku kemudian ia merebahkanku di atas ranjang lalu berbaring di sebelahku. Kudekatkan tubuhku ke tubuhnya kemudian memeluk erat tubuhnya dan memejamkan mata.

Yesung meraih selimut kemudian menutupi seluruh tubuh kami, lalu ia memelukku di dalam selimut sampai akhirnya kami pun tertidur lelap.
_________________________________________

-Yesung’s POV-

“Morning chagiya,” kukecup lembut bibir pink Yuri yang baru saja membuka kedua matanya pagi itu.

“Emh..” Gumam Yuri sambil meregangkan kedua tangannya sementara aku terus memeluk pinggangnya. “Jam berapa sekarang, Oppa?” Tanyanya setengah berbisik.

“Tepat jam setengah enam pagi.” Jawabku singkat sambil mengelus lembut perut ratanya itu, kemudian mengusap vaginanya itu hingga ia mendesah kecil. “Aaaa~hh, Oppa.. Andwae,” keluhnya. Aku hanya tertawa kecil sambil mengecup bibirnya lembut.

“Mau kemana?” Ujarku bingung melihatnya melepas pelukanku kemudian beranjak dari ranjang meninggalkanku.

“Mandi. Menyiapkan sarapan. Yura dan Jiwoon masuk sekolah hari ini,”

Aku memutar kedua bola mataku. “Kau tidak mau morning sex terlebih dahulu, chagi~?” Godaku sambil menahan tubuhnya dengan memeluknya dari belakang.

Yuri mendesah pelan. “Oppa.. Kau tidak puas dengan semalam? Aku lelah.”

Aku manyun. “Aku mau lagi, sayaaang~”

“Sayang? Sayaaaaaang~~” jeritku saat Yuri malah menjauh keluar dari kamar.
_________________________________________“Eommaaaaa, susu stroberiku manaa? Aku hauuusss..” Rengek Yura sambil memasang serbet di lehernya.

“Iya sayaang, sebentaaar. Oppa.. Ambilkan susu stroberi Yura di kulkas, dong.”

Aku yang baru saja turun dari tangga, menguap panjang sambil meregangkan tanganku. “Hmm.. Iya, iya.” Gumamku. Semalam aku sedikit masuk angin karena tidur tanpa mengenakan pakaian dan tidak menggunakan selimut karena selimut tipis dan kecil itu dipakai sendirian oleh Yuri. Sial -__-

Ting tong.. Bel pintu berbunyi saat aku meraih sebotol susu stroberi dari dalam kulkas. Yuri yang tengah menyiapkan pasta untuk sarapan pagi itu menghentikan aktivitasnya, kemudian segera berlari kecil menghampiri pintu.

“Taeyang?” PYARR!!! Botol susu yang kupegang itu tiba-tiba saja meleset dari tanganku dan tumpah di lantai ruang makan. Mataku langsung melotot garang ke arah pintu, mendapati Yuri tengah menyambut.. TAEYANG?!

“Haa?! Aaah, Appaaaa!! Susu stroberiku tumpaaah.. Huhuhuu..” Rengekan Yura sama sekali tak kuperdulikan. Aku langsung melesat menghampiri pintu kemudian memandang Taeyang berang. “Mau apa kau kesini?” Tanyaku dingin.

Yuri menoleh menatapku yang tiba-tiba saja ada di belakangnya. “Ah.. Oppa..” Raut wajah Yuri langsung berubah, sepertinya ia takut kalau aku tiba-tiba saja langsung menghajar Taeyang dan mengusirnya.

“Mau apa kau kesini? Apa belum cukup hajaranku tempo hari kepadamu, hah? Sudah berapa kali kubilang, jangan ganggu kehidupan keluargaku lagi!”

Taeyang tersenyum tenang, kemudian seakan tidak mendengar bentakanku ia langsung beralih ke Yuri kemudian menyodorkan sebuah kartu berwarna emas berpita silver. “Datang ya ke pesta pernikahanku.”

“Pernikahan?” Dengan cepat aku menyambar kartu itu kemudian memandang nama calon istri namja ini. Park.. Sunyoung..?

“Park Sunyong?!” Jeritku tertahan. “Kau.. Kau mau menikah dengan Luna..?”

Yuri terkejut, kemudian ia segera menyambar kartu itu dan membaca isinya. “Hah? Lu.. Luna..?”

Taeyang mengangguk kemudian tersenyum. “Kau kenal dengannya?”

Aku mengangguk bloon. “I.. Iya.. Dia sekretarisku di kantor.”

Taeyang tersenyum. “Ah.. Ternyata dunia itu sempit ya. Ternyata calon istriku adalah sekretaris temanku sendiri. Hihihi. Iya, Luna adalah anak dari sahabat ayahku. Kami sudah berteman sejak kecil, dan tempo hari ayah bilang mau menjodohkanku dengannya. Aku terima perjodohan itu, dan enam hari lagi aku akan menikah dengannya,”

Aku dan Yuri sama-sama bengong. Ternyata biang kecemburuan kami berdua akan menikah? Bahkan saling menikah satu sama lain.. Ckckck..

Aku tersenyum, kemudian memeluk Taeyang lalu meninju lengannya. “Selamat.” Ucapku.

Yuri menyalami Taeyang kemudian menepuk bahunya. “Bahagiakan dia, ya. Oh ya, jangan lupa, katakan padanya agar jangan terlalu dekat dengan suamiku,” canda Yuri sambil memeluk lenganku manja.

Aku manyun. Taeyang dan Yuri sama-sama tertawa.

“EOMMAAAA… APPA JAHAAATTT!! SUSU STROBERIKUUUU.. HUHUHUHUUU..”

“Ups.” Bisikku sambil menutup mulutku.

-THE END-

Haaa! Selesai juga ceritanya ^^ kira-kira ada yang mau cerita keempat tentang couple ini gak? ^w^ kalau nggak suka pairingnya, comment aja ;) aku ganti sama pairing bb-gb yang lain :D

Oke, sekian dulu~~ ^^ kansahamnidaa~ *peluk* *cipika-cipiki* *cipok basah* *yadongin #eh* *bow~*

26 thoughts on “[YesYul] Baby, I’m Jealous!

  1. Ceritanya seru , ada beberapa bagian yg bikin ktawa , apalagi pas bagian yura sama jiwoon ngeledekin yesung lagi galau ,:p akhirnya gaaa bkalan ad lg yg ganggu hub ? tngga yeppa sama yuri deh , tapi yeppanya sih genit , msh suka lirik cewek lain udah tau klo yuri itu cmburuan ,

  2. adduh kek nya gue kudet deh baru baca ni ff-_- rame banget thor. gue suka banget sama yuri-yesung dua dua nya bias gue soal nya… ttp buat ff nc yya thor. esp yuri-yesung :)) keren lahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s